PU-net

BASIS DATA
PUSAT PENGEMBANGAN INFRASTRUKTUR PEKERJAAN UMUM DAN PERUMAHAN RAKYAT WILAYAH III

Kawasan Perdesaan Prioritas Nasional (KPPN) Baturaja

Kawasan Perdesaan Prioritas Nasional (KPPN) Baturaja

Baturaja
Provinsi Sumatera Selatan

FUNGSI KOTA
Pusat Pertumbuhan Baru
KLASIFIKASI UKURAN KOTA
Kawasan Perdesaan
JUMLAH PENDUDUK
16.634 Jiwa
LUAS WILAYAH
230,76 Km2
WEBSITE PEMERINTAHAN

DELINEASI KPPN BATURAJA (SIKAP DALAM - EMPAT LAWANG)

Salah satu lokasi prioritas peningkatan keterkaitan desa – kota di Pulau Sumatera yaitu Baturaja dan sekitarnya. Kelompok kawasan agropolitan salah satunya meliputi Kecamatan Sikap Dalam Kabupaten Empat Lawang. Kecamatan Sikap Dalam, kemudian ditetapkan sebagai Kawasan Perdesaan Prioritas Nasional (KPPN) meliputi 11 (sebelas) Desa. Berikut merupakan rincian desa yang masuk dalam KPPN Baturaja (Sikap Dalam - Empat Lawang):

  1. Desa Puntang
  2. Desa Bandar Aji
  3. Desa Paduraksa
  4. Desa Karang Gede
  5. Desa Karang Dapo Baru
  6. Desa Karang Dapo Lama
  7. Desa Tangga Rasa
  8. Desa Tapa Lama
  9. Desa Tapa Baru
  10. Desa Marta Pura
  11. Desa Karang Anyar

JUMLAH PENDUDUK KPPN BATURAJA (SIKAP DALAM - EMPAT LAWANG)

Jumlah penduduk di kawasan KPPN Sikap Dalam pada tahun 2015 yaitu sebanyak 16.634 jiwa dengan rincian sebagai berikut:

No Nama Desa Jumlah Penduduk (jiwa)
1 Puntang 1.586
2 Bandar Aji 1.616
3 Paduraksa 1.483
4 Karang Gede 1.769
5 Karang Dapo Baru 347
6 Karang Dapo Lama 957
7 Tangga Rasa 3.792
8 Tapa Lama 1.010
9 Tapa Baru 861
10 Marta Pura 2.026
11 Karang Anyar 1.188
Jumlah 16.634

KINERJA INFRASTRUKTUR KPPN BATURAJA (SIKAP DALAM - EMPAT LAWANG)

Sarana dan Prasarana Transportasi

  • Minimnya saluran drainase di jalan utama (jalan provinsi) sehingga menyebabkan air tergenang bahkan sampai ke perumahan;
  • Aksesibilitas menuju sentra produksi (sawah, kebun) yang sangat buruk. Umumnya jalan tanah dan hanya dapat dilalui oleh kendaraan roda 2 (dua). Pada saat musim hujan, jalan tersebut sulit bahkan tidak dapat dilalui.

Suplai Energi

Layanan listrik untuk permukiman sudah masuk ke semua desa di KPPN Sikap Dalam, namun belum menjangkau permukiman-permukiman yang berada di talang-talang petani. Hingga saai ini masih banyak talang/ dusun yang belum teraliri listrik.

Permukiman

Sebagian besar rumah penduduk di KPPN Sikap Dalam masih semi permanen dan temporer berbahan kayu. Rumah tidak layak huni mudah dijumpai dan tersebar di setiap desa, terutama di talang/dusun. Jumlah rumah tidak layak huni di KPPN Sikap Dalam yaitu sebanyak 588 unit. Kondisi infrastruktur permukiman:

  1. Jalan desa, jalan lingkungan: Umumnya hanya jalan tanah dan hanya dilalui oleh kendaraan roda 2, pada saat musim hujan jalan tersebut sulit bahkan tidak dapat dilalui karena tergenang oleh air dan berlumpur.
  2. Drainase: Saluran drainase di jalan-jalan lingkungan dan jalan utama (jalan provinsi) masih minim, sehingga menyebabkan air tergenang khususnya pada musim penghujan.

  3. Akses air bersih dan sanitasi: Karena susahnya mendapatkan air bersih yang layak, para penduduk mengambil air yang berasal dari sungai dan juga menjadikan sungai  sebagai sarana mandi, cuci dan kaskus.

POTENSI KPPN BATURAJA (SIKAP DALAM - EMPAT LAWANG)

KPPN Sikap Dalam memiliki ciri utama kegiatan pertanian. Pertanian yang dikembangkan yaitu pertanian tanaman pangan dan pertanian tanaman keras. Komoditas yang menjadi unggulan di KPPN Sikap Dalam yaitu kopi, lada, kemiri, dan padi. Kopi  merupakan komoditas utama di Kecamatan Sikap Dalam dan dibudidayakan oleh hampir seluruh penduduk.  Produksi Kopi mencapai 1.477 ton dengan luas panen sebesar 4.291 hektar.  

2017 - Penyusunan Masterplan dan Pra Desain KPPN Baturaja, Empat Lawang (Deluxe) TAMPILKAN
UNDUH

KPPN merupakan kawasan perdesaan potensial dengan komoditas unggulan tertentu yang mendukung pengembangan 40 (empat puluh) pusat pertumbuhan yang telah ditetapkan dalam RPJMN. Dengan adanya KPPN, program-program lintas K/L yang terkait dengan pengembangan kawasan perdesaan dapat difokuskan pada lokasi-lokasi KPPN tersebut, sehingga pada akhir tahun penanganan yaitu tahun 2019 didapatkan kawasan perdesaan yang sudah dikembangkan secara komprehensif sehingga mampu berdikari, menjadi pilar pengembangan ekonomi wilayah, mensejahterakan masyarakat, dan dapat direplikasi pada kawasan-kawasan perdesaan lain di seluruh Indonesia.