PU-net

BASIS DATA
PUSAT PENGEMBANGAN INFRASTRUKTUR PEKERJAAN UMUM DAN PERUMAHAN RAKYAT WILAYAH III

Kawasan Perdesaan Prioritas Nasional (KPPN) Kolonedale

Kawasan Perdesaan Prioritas Nasional (KPPN) Kolonedale

Kolonedale
Provinsi Sulawesi Selatan

FUNGSI KOTA
Pusat Pertumbuhan Baru
KLASIFIKASI UKURAN KOTA
Kawasan Perdesaan
JUMLAH PENDUDUK
12.358 Jiwa
LUAS WILAYAH
850,22 Km2
WEBSITE PEMERINTAHAN

DELINEASI KPPN KOLONEDALE (TOWUTI - LUWU TIMUR)

Berdasarkan hasil koordinasi dengan Pemerintah Kabupaten Luwu Timur, delineasi wilayah KPPN Towuti terdiri atas terdiri dari 10 (sepuluh) desa di Kecamatan Towuti dengan luas 850,22 km2. Luas wilayah KPPN Towuti Kabupaten Luwu Timur berdasarkan hasil delineasi secara lebih rinci disajikan pada tabel berikut:

No Desa Luas Wilayah (km2)
1 Bantilang 5,17
2 Loeha 297,39
3 Mahalona 409,41
4 Masiku 34,68
5 Rante Angin 48,42
6 Tokalimbo 54,65
7 Libukang Mandiri 18,6
8 Tole 25
9 Buangin 12,45
10 Kalosi 14
Jumlah 850,22

JUMLAH PENDUDUK KPPN KOLONEDALE (TOWUTI - LUWU TIMUR)

Penduduk KPPN Towuti pada tahun 2015 tercatat sebesar 12.358 jiwa. Dimana desa dengan jumlah penduduk tertinggi adalah Desa Bantilang dan Desa Loeha, yaitu sebesar: Desa Bantilang 1.818 jiwa dan Desa Loeha 1.819 jiwa. Untuk lebih jelasnya dapat dilihat pada tabel di bawah ini.

No Desa Jumlah Penduduk (jiwa)
1 Bantilang 1.818
2 Loeha 1.819
3 Mahalona 1.057
4 Masiku 711
5 Rante Angin 1.277
6 Tokalimbo 942
7 Libukang Mandiri 1.127
8 Tole 915
9 Buangin 1.530
10 Kalosi 1.162
Jumlah 12.358

KINERJA INFRASTRUKTUR KPPN KOLONEDALE (TOWUTI - LUWU TIMUR)

Jalan

Kondisi jalan lingkungan masih menggunakan material sirtu/kerikil dan sebagian masih jalan tanah dengan kondisi drainase yang dibentuk dengan galian tanah serta jembatan pelintasan sungai kecil atau drainase masih terbuat dari jembatan kayu yang sifatnya sementara karena hanya terbuat dari kayu-kayu sisa olahan atau batang-batang kayu. Pada saat musim hujan, beberapa ruas jalan digenangi air sehingga kondisinya berlumpur dan sulit dilalui.

Aksesibilitas menuju Pusat KPPN Towuti yaitu Desa Mahalona dapat dicapai melalui jalur udara dan darat dengan 2 alternatif, yaitu:

  1. Alternatif 1 (Jalur Transportasi Udara): Jalur ini menggunakan pesawat  udara dari Jakarta–Makassar–Soroako. Pesawat dengan rute Makassar–Soroako menggunakan pesawat udara berkapasitas 20 orang dengan frekuensi penerbangan sekali dalam sehari, meskipun sarana transportasi ini lebih mengutamakan pelayanan bagi masyarakat industri di sekitar kawasan pertambangan PT. Inco, T.bk dalam waktu tempuh ±45 menit. Dari Soroako ke Mahalona melalui Wawondula (Ibukota Kecamatan Towuti) menggunakan kendaraan roda empat atau roda dua melalui jalur darat yang berjarak ±30 km dalam waktu 1-2 jam dan dari Wawondula ke Mahalona menggunakan kendaraan roda empat atau roda dua.
  2. Alternatif 2 (Jalur Transportasi Darat): Jalur ini menggunakan pesawat udara dari Jakarta ke Makassar. Dari Makassar ke Malili (Ibukota KabupatenLuwu Timur) menggunakan kendaraan roda empat dengan jarak 581 km dan ditempuh selama 10-12 jam. Dari Kota Malili ke Desa Mahalona yang berjarak 70 km menggunakan kendaraan roda empat atau roda dua dengan waktu tempuh kurang lebih 2-3 jam. Waktu tempuh ini agak lama jika dibandingkan dengan waktu normal jika semua jalan beraspal karena ±20 km dari Kota Wawondula menuju Desa Mahalona belum beraspal dengan kondisi jalan kerikil melalui beberapa bukit dan lembah. Jalan ini agak sulit dilalui jika hujan, karena licin dan terdapat genangan air disekitarnya.

Sarana dan Prasarana Sumberdaya Air

Pembangunan sarana dan prasarana sumberdaya air di KPPN Towuti diwujudkan melalui pengembangan dan pengelolaan embung/waduk/bendungan dan jaringan irigasi.

  1. Embung/Waduk/Bendungan: Jumlah embung di KPPN Towuti sebanyak 3 buah embung dan 2 buah bendungan yaitu Bendungan Bantilang dan Bendungan Sungai Lamonto.
  2. Jaringan Irigasi: Daerah Irigasi di KPPN Towuti Kabupaten Luwu Timur ada sebanyak 8 Daerah Irigasi dengan dengan panjang 343,3 Km.

Permukiman

Pola penyebaran permukiman di KPPN Towuti pada umumnya mengelompok, acak dan mengikuti jaringan jalan. Terdapat permukiman tidak layak huni sebanyak 1.107 unit rumah yang tersebar di Desa Bantilang, Desa Mahalona, Desa Libukang Mandiri dan Desa Kalosi.

Air Bersih

Penyediaan dan Pengelolaan air bersih pada kawasan KPPN Towuti dengan sistem jaringan non-perpipaan yang dikelola secara mandiri oleh penduduk. Pelayanan air bersih dengan sistem non-perpipaan adalah sistem pemenuhan kebutuhan air yang diperoleh langsung dari sumbernya, tanpa melalui jaringan penyaluran/pipa. Sumber air bersih non-perpipaan berasal dari air tanah dan air permukaan yang dimanfaatkan dengan pembuatan sumur gali. Kualitas air bersih yang digunakan rata-rata berkualitascukup baik, karena kondisi air tanah dan sumber-sumber air pada kawasan ini rata-rata berkualitas baik.

Air Limbah Domestik

Sebagian besar pembuangan limbah cair rumah tangga di KPPN Towuti melalui saluran selokan terbuka atau langsung ke sungai. Sebagian kecil melalui proses pengeolahan limbah cair domestik dilaksanakan dengan cara sebagai berikut:

  • Sistem pembuangan air limbah yang berasal dari toilet dialirkan ke dalam septic tank (tangki septik) dan air limpasan dari tangki septik diresapkan ke dalam tanah atau dibuang ke saluran umum.
  • Air limbah non toilet yang berasal dari mandi, cuci dan buangan dapur dibuang langsung ke saluran umum/sungai.

Persampahan

Secara umum, sumber sampah pada kawasan perumahan dan permukiman KPPN Towuti adalah sampah rumah tangga dengan sistem pembuangan sampah On-Site yaitu sistem pembuangan sampah dengan cara dibuang di lokasi sekitar tempat tinggal, yang biasanya dilakukan dengan dibakar atau ditimbun. Sistem ini masih memungkinkan untuk kawasan permukiman yang belum padat karena lahan yang tersedia cukup luas, jumlah sampah tidak terlalu besar dan dapat dikerjakan secara individu.

Kesehatan

Sarana kesehatan yang terdapat di Wilayah KPPN Towuti terdiri atas sarana kesehatan berupa Puskesmas, Puskesmas Pembantu, Poskesdes, dan Prakter Dokter. Jumlah sarana kesehatan terbanyak di Wilayah KPPN Towuti adalah pos kesdes yaitu sebanyak 12 unit.

Energi

Pada umumnya KPPN Towuti belum mendapat pasokan listrik dari PLN, sehingga generator adalah satu-satunya sumber energi listrik di KPPN Towuti, sedangkan untuk PLTA hanya melayani Desa Bantilang, Buangin, dan Loeha.

Khususnya pada Desa Mahalona yang kemampuannya sangat terbatas, baik untuk kebutuhan sehari-hari maupun untuk mendukung aktifitas ekonomi masyarakat.

Kapasitas pelayanan generator ini hanya empat jam yaitu sejak pukul 18.00 hingga pukul 22.00 WIB, itupun belum semua rumah warga bisa terlayani karena hanya dimiliki oleh beberapa warga sehingga warga lainnya hanya bergantung pada pemiliki generator. Jaringan listrik yang digunakan pun sangat sederhana dengan menggunakan tiang kayu dan kabel jaringan listrik seadanya. Kondisi ini selain tingkat pelayanan yang sangat terbatas, aspek keamanan jaringannya juga tidak terjamin. Padahal dalam kawasan ini dilintasi oleh 3 (tiga) sungai dan di sekitarnya terdapat 2 (dua) danau sehingga sangat potensial untuk pengembangan sumber energi listrik dengan model Pembangkit Listrik Tenaga Mikro Hidro (PLTMH). Pelayanan energi listrik di KPPN Towuti direncanakan akan dilayani PT. Perusahaan Listrik Negara (PT. PLN) yang sumbernya dari Pembangkit Listrik Tenaga Air yang sudah dikembangkan oleh Pemerintah dan PT. INCO. Selain itu akan dibangun Pembangkit Listrik Tenaga Mikro Hidro (PLTMH) mengingat di sekitar lokasi tersebut terdapat 3 sungai yang potensial untuk pengembangan sumber daya energi listrik.

POTENSI KPPN KOLONEDALE (TOWUTI - LUWU TIMUR)

Pada umumnya pekerjaan penduduk di KPPN Towuti adalah petani dengan komoditas khusus yang telah dikembangkan adalah padi dan lada. Selain potensi di sektor pertanian dan perkebunan, KPPN Towuti juga berpotensi di sektor pariwisata yaitu pariwisata yang telah dikembangkan adalah pariwisata Danau Towuti.

Pertanian

Sub sektor pertanian tanaman pangan terutama tanaman pangan padi merupakan  salah satu lapangan usaha yang ada di KPPN Towuti  Kabupaten Luwu Timur. Produksi padi pada  tahun 2015 di Kecamatan Towuti mencapai 15.304,99 ton dengan  luas panen 2.545 Ha.

Komoditas lada sebagai salah satu sektor unggulan di Kabupaten Luwu Timur, dimana Kecamatan Towuti penyumbang terbesar. Kontribusi produksi lada di KPPN Towuti  ±1.957,86 Ton atau sekitar 65,54% dari total produksi lada di Kabupaten Luwu Timur. Jenis Merica yang ditanam penduduk di Desa Loeha, Ranteangin, Bantilang dan Mahalona merupakan varitas unggulan pertanian dan bibit lokal yang dibibit sendiri oleh para petani.

Pariwisata

Dikawasan KPPN Towuti terdapat 3 buah danau yang strategis yaitu Danau Matano, Danau Towuti dan Danau Mahalona yang sangat potensial untuk dikembangkan menjadi wahana wisata alam danau yang tidak saja untuk masyarakat lokal tapi jika dikelola dengan baik dapat mengundang minat wisatawan domestik dan bahkan mancanegara.

Danau Towuti di Luwu Timur merupakan salah satu danau purba di dunia dengan umur mencapai jutaan tahun, Umur danau diperkirakan berkisar antara 1-4 juta tahun yang lalu. Danau Towuti juga merupakan danau terbesar di Sulawesi Selatan. Danau Towuti juga merupakan danau air tawar terbesar kedua se-Indonesia setelah danau Toba di Sumatera Utara.  Danau yang memiliki kedalaman maksimal 203 meter ini berada di Kecamatan Towuti, Kabupaten Luwu Timur, Sulawesi Selatan.

Danau tersebut berada di Kabupaten Luwu Timur, Kecamatan Towoti yang dikelola oleh Balai Konservasi Sumber Daya Alam (BKSDA) provini Sulawesi Selatan yang berada di bawah Departemen Kehutanan Republik Indonesia. Karena merupakan danau yang dilindungi, kawasan ini menjadi sangat teratur dan terjaga. Keindahan Alam yang bisa kita lihat saat mengunjungi Danau Towuti berupa bentangan air yang biru dengan latar belakang perbukitan dan memiliki kurang lebih 14 jenis ikan tawar endemik Sulawesi. Danau Towuti ini juga terdapat banyak jenis anggrek epifit di pepohonan, dan pohon Macadamia hildebrandii yang endemik di Sulawesi.

2017 - Penyusunan Masterplan dan Pra Desain KPPN Kolonedale, Luwu Timur (Deluxe) TAMPILKAN
UNDUH

KPPN merupakan kawasan perdesaan potensial dengan komoditas unggulan tertentu yang mendukung pengembangan 40 (empat puluh) pusat pertumbuhan yang telah ditetapkan dalam RPJMN. Dengan adanya KPPN, program-program lintas K/L yang terkait dengan pengembangan kawasan perdesaan dapat difokuskan pada lokasi-lokasi KPPN tersebut, sehingga pada akhir tahun penanganan yaitu tahun 2019 didapatkan kawasan perdesaan yang sudah dikembangkan secara komprehensif sehingga mampu berdikari, menjadi pilar pengembangan ekonomi wilayah, mensejahterakan masyarakat, dan dapat direplikasi pada kawasan-kawasan perdesaan lain di seluruh Indonesia.