PU-net

BASIS DATA
PUSAT PENGEMBANGAN INFRASTRUKTUR PEKERJAAN UMUM DAN PERUMAHAN RAKYAT WILAYAH III

Profil Kota Bengkulu

Kota Bengkulu

Bengkulu

FUNGSI KOTA
Pusat Kegiatan Nasional (PKN)
TANGGAL PEMBENTUKAN
1719-03-18
KLASIFIKASI UKURAN KOTA
Kota Sedang
JUMLAH PENDUDUK
359.488 jiwa
LUAS WILAYAH
146,88 km2

PROFIL KOTA

Kota Bengkulu adalah ibu kota provinsi BengkuluIndonesia. Kota ini merupakan kota terbesar kedua di pantai barat Pulau Sumatera, setelah Kota Padang. Sebelumnya kawasan ini berada dalam pengaruh kerajaan Inderapura dan kesultanan Banten. Kemudian dikuasai Inggris sebelum diserahkan kepada Belanda. Kota ini juga menjadi tempat pengasingan Bung Karno dalam kurun tahun 1939 - 1942 pada masa pemerintahan Hindia Belanda.

Secara astronomis, Kota Bengkulu terletak antara 03 derajat 45’ – 03 derajat 59’ Lintang Selatan serta 102 derajat 14’ – 102 derajat 22’ Bujur Timur yang memiliki batasan wilayah antara lain sebelah utara dan timur berbatasan dengan Kabupaten Bengkulu Tengah, sebelah selatan berbatasan dengan Kabupaten Seluma, dan sebelah barat berbatasan dengan Samudera Hindia. 

Kota Bengkulu memiliki relief permukaan tanah yang bergelombang, terdiri dari dataran pantai dan daerah berbukit-bukit serta di beberapa tempat terdapat cekungan alur sungai kecil. Di Kota Bengkulu tahun 2015, curah hujan tertinggi terjadi pada bulan Desember yaitu sebesar 559 mm dengan hari hujan sebanyak 20 hari sedangkan curah hujan terendah terjadi pada bulan Oktober yaitu sebesar 7 mm dengan hanya 1 hari hujan.

Penduduk Kota Bengkulu pada tahun 2016 mencapai 359.488 jiwa yang terdiri dari 180.289 jiwa penduduk laki-laki dan 179.199 jiwa penduduk perempuan. Kepadatan penduduk Kota Bengkulu yaitu sebesar 2.381 jiwa/km2. Kecamatan terpadat di Kota Bengkulu yaitu Kecamatan Ratu Samban dengan kepadatan penduduk hingga 8.905 jiwa/km2 sedangkan kecamatan dengan kepadatan penduduk terendah yaitu Kecamatan Selebar yaitu 1.462 jiwa/km2. 

EKONOMI

Pada tahun 2015 PDRB Kota Bengkulu atas dasar harga berlaku telah mencapai 15.815.675,1 juta rupiah, sedangkan PDRB atas dasar harga konstan 2010 sebesar 12.329.752 juta rupiah. Apabila dibandingkan dengan tahun 2014, PDRB Kota Bengkulu tahun 2015 atas harga berlaku telah mengalami perkembangan sebesar 11,45%, sedangkan PDRB Kota Bengkulu tahun 2015 atas dasar harga konstan 2010 mengalami pertumbuhan sebesar 6,05%. Peranan sektor perdaganan besar dan eceran; reparasi mobil dan motor dalam perekonomian Kota Bengkulu hingga tahun 2015 masih sangat dominan. Kedudukan sektor perdagangan sebagai leading sector dalam perekonomian Kota Bengkulu masih sulit digeser oleh sektor-sektor lainnya. Fenomena itu terlihat dari relative besarnya peranan sektor pertanian dalam PDRB Kota Bengkulu masih sulit digeser oleh sektor-sektor lainnya. Fenomena itu terlihat dari relatif besarnya peranan sektor pertanian dalam PDRB Kota Bengkulu atas dasar harga berlaku dibandingkan sektor-sektor lainnya. Nilai nominal PDRB sektor pertanian atas dasar harga berlaku pada tahun 2015 sebesar 14.117,7 miliar rupiah dan peranannya dalam PDRB Kota Bengkulu sebesar 31,21%. Kemudian diikuti sektor perdagangan besar dan eceran; reparasi mobil dan sepeda motor dengan nilai nominal atas dasar harga berlaku pada tahun 2015 sebesar 6.096,5 miliar rupiah dengan peran sebesar 13,42%.

SEJARAH

Bengkulu dalam bahasa Belanda disebut Benkoelen atau Bengkulen, dalam bahasa Inggris disebut Bencoolen, sementara dalam bahasa melayu disebut Bangkahulu. Ada banyak cerita tentang asal usul dan nama Bengkulu, ada yang menyebutkan bahwa nama Bengkulu berasal dari bahasa Melayu dan kata bang yang berarti “pesisir” dan kulon yang berarti “barat”, kemudian terjadi pergeseran pengucapan bang berubah menjadi beng dan kulon menjadi kulu. Sementara sumber lain menyatakan Nama “Bencoolen” diperkirakan diambil dari sebuah nama bukit di Cullen, Skotlandia, Bm of Cullen (atau variasmya, Ben Cullen). Penamaan ini kurang berdasar karena bukanlah tabiat bangsa Melayu untuk menamakan daerahnya dengan nama daerah yang tidak dikenal, apalagi asal nama itu dari Skotlandia yang jauh disana.

Sumber tradisional menyebutkan bahwa Bengkulu atau Bangkahulu berasal dan kata  Bangkai dan Hulu yang maksudnya bangkai di hulu. Konon menurut cerita, dulu pernah terjadi perang antara kerajaan-kerajaan kecil yang ada di Bengkulu dan dari pertempuran itu banyak menimbulkan korban dari kedua belah pihak di hulu sungai Bengkulu. Korban-korban perang inilah yang menjadi bangkai tak terkuburkan di hulu sungai tersebut maka tersohorlah sebutan Bangkaihulu yang lama-kelamaan berubah pengucapan menjadi Bangkahulu atau Bengkulu.

Dari sekian banyak cerita tentang asal usul nama Bengkulu ada satu cerita yang lebih banyak dikenal di masyarakat Bengkulu yaitu diambil dari kisah perang melawan orang Aceh yang datang hendak melamar Putri Gading Cempaka, yaitu anak Ratu Agung Sungai Serut. Akan tetapi lamaran tersebut ditolak sehingga menimbulkan perang. Anak Dalam saudara kandung Putri Gading Cempaka yang menggantikan Ratu Agung sebagai Raja Sungai Serut berteriak “Empang ka hulu ” yang berarti hadang mereka dan jangan biarkan mereka menginjakkan kakinya ke tanah kita. Dari kata-kata tersebut maka lahirlah kata Bangkahulu atau Bengkulu.

Zaman Penjajahan

Pada pertengahan abad ke 13 sampai dengan abad ke 16 di Daerah Bengkulu terdapat 2 kerajaan yaitu: Kerajaan Sungai Serut dan Kerajaan Selebar. Pada tahun 1685 Inggris masuk ke Bengkulu yang dipimpin oleh Kapten J. Andiew dengan menggunakan 3 Kapal yang bemama The Caesar, The Resolution dan The Defence dan menjajah Bengkulu selama kurang lebih 139 tahun (1685-1824). Dalam masa ini ratusan prajurit Inggris meninggal karena kolera, malaria dan disenteri. Kehidupan di Bengkulu sangat susah bagi orang Inggris. Saat itu perjalanan pelayaran dari Inggris ke Bengkulu memakan waktu 8 bulan. Terjadi juga pertempuran dengan penduduk setempat.

Pada tahun 1714 — 1719 Inggris mendirikan Benteng Marlborough di bawah pimpinan wakil Gubernur England Mdische Company (EIC) yaitu Joseph Collet. Namun karena kesombongan dan keangkuhan Joseph Collet, begitu Benteng Marlborough selesai dibangun pada tahun 1719 rakyat Bengkulu di bawah pimpinan Pangeran Jenggalu menyerang pasukan Inggris di Ujung Karang dan Benteng Marlborough berhasil mereka kuasai serta Inggris dipaksa meninggalkan Bengkulu. Peristiwa heroik ini sampai sekarang diperingati sebagai hari jadi Kota Bengkulu. Namun pasukan Inggris kembali lagi ke Bengkulu dan perlawanan rakyat Bengkulu terhadap Inggris tetap berlanjut. Pada tahun 1807 resident  Inggris Thomas Parr dibunuh dalam suatu pertempuran melawan rakyat Bengkulu. Parr diganti Thomas Stamford Raffles, yang berusaha menjalin hubungan yang damai antara pihak Inggris dan penguasa setempat. Di bawah perjanjian Inggris-Belanda yang ditandatangani tahun 1824, Inggris menyerahkan Bengkulu ke Belanda, dan Belanda menyerahkan Singapura ke Inggris.

Sejak 1824-1942 Daerah Bengkulu sepenuhnya berada di bawah kekuasaan Pemerintahan Hindia Belanda. Namun, Belanda baru sungguh-sungguh mendirikan Administrasi kolonialnya di Bengkulu tahun 1868. Karena produksi rempah-rempah sudah lama menurun, Belanda berusaha membangkitkannya kembali. Ekonomi Bengkulu membaik dan kota Bengkulu berkembang. Tahun 1878 Belanda menjadikan Bengkulu residentie terpisah dari Sumatera Selatan dan kota kecil Bengkulu dijadikan sebagai pusat Pemerintahan Gewes Bencoolen.

Setelah Belanda kalah dari Jepang pada tahun 1942 dimulailah masa penjajahan Jepang selama kurang lebih 3 tahun. Pada masa Pemerintahan Jepang dan revolusi fisik Kota Bengkulu ini menjadi ajang pertempuran untuk merebut dan mempertahankan kemerdekaan, karenanya tidak sedikit putera terbaik Bengkulu yang gugur. Pada masa revolusi fisik Kota Bengkulu menjadi tempat kedudukan Gubernur Militer Sumatera Selatan yang kala itu Gubernurnya adalah DR. AK. Gani.

Zaman Kemerdekaan

Setelah Indonesia merdeka Bengkulu ditetapkan sebagai Kota kecil di bawah Pemerintahan Sumatera Bagian Selatan dengan luas 17,6 Km2 berdasarkan Undang-Undang Nomor 6 Tahun 1956 tentang Pembentukan Kota Kecil Bengkulu. Pada tahun 1957 Kota Kecil Bengkulu berubah menjadi Kotapraja berdasarkan Undang-Undang Nomor 1 Tahun 1957, yang meliputi 4 Wilayah Kedatukan dengan membawahi 28 Kepemangkuan yaitu : Kedatukan wilayah I terdiri dari 7 Kepemangkuan, Kedatukan wilayah II terdiri dari 7 Kepemangkuan, Kedatukan wilayah III terdiri dari 7 Kepemangkuan, Kedatukan wilayah IV terdiri dari 7 Kepemangkuan.

Berdasarkan Undang-Undang Nomor 9 Tahun 1967 jo Peraturan Pemerintah Nomor 20 Tahun 1968 tentang Pembentukan Propinsi Bengkulu, menetapkan Kota Bengkulu sebagai Ibu Kota Provinsi Bengkulu. Dengan ditetapkannya Undang-Undang Nomor 5 Tahun 1974 tentang Pokok-Pokok Pemerintahan Di Daerah, merubah sebutan Kotapraja menjadi Kotamadya Daerah Tingkat II Bengkulu. Kotamadya Daerah Tingkat II Bengkulu selanjutnya dibagi dalam 2 wilayah seTingkat Kecamatan berdasarkan Surat Keputusan Gubemur Kepala Daerah Tingkat I Bengkulu Nomor: 821.27-039 tanggal 22 Januari 1981, yaitu: Wilayah Kecamatan Teluk Segara. Dan Wilayah Kecamatan Gading Cempaka.

Dengan ditetapkannya Surat Keputusan Walikotamadya Kepala Daerah Tingkat II Bengkulu Nomor: 440/1981 dan Nomor: 444/1981 dan dikuatkan denan Surat Keputusan Gubemur Kepala Daerah Tingkat I Bengkulu Nomor; 141/1982 tanggal 1 Oktober 1982, menghapus wilayah Kedatukan dan Kepemangkuan menjadi Kelurahan. Berdasarkan Peraturan Pemerintah Nomor: 42/1982 wiIayah Kotamadya Daerah Tingkat II Bengkulu, terbagi 2 Wilayah Kecamatan definitif yang membawahi 38 Kelurahan, yaitu: Kecamatan Teluk Segara membawahi 17 Kelurahan dan Kecamatan Gading Cempaka membawahi 21 Kelurahan.

Pada tahun 1986 berdasarkan Peraturan Pemerintah Nomor: 46/1986 tentang Perubahan Batas dan Perluasan Wilayah Kotamadya Dati II Bengkulu, luas Wilayah Kotamadya Bengkulu berubah dan 17,6 Km2 menjadi 144,52 Km2 dan terdiri dan 4 Wilayah Kecamatan, 38 Kelurahan serta 17 Desa yaitu: Kecamatan Teluk Segara membawahi 17 Kelurahan dan 4 Desa, Kecamatan Gading Cempaka membawahi 21 Kelurahan dan 2 Desa, Kecamatan Selebar membawahi 6 Desa, dan Kecamatan Muara Bangkahulu membawahi 5 Desa.

ASET PUSAKA

Kota Bengkulu memiliki beberapa aset pusaka baik yang berupa aset pusaka tangible berupa benda/bangunan/situs bersejarah maupun aset pusaka non-benda yang berupa tarian, prosesi adat, dan sebagainya. Aset pusaka bangunan/situs bersejarah yang terdapat di Kota Bengkulu yaitu Rumah Rakyat, Rumah Adat Curup, Benteng Marlborough, Masjid Jami', Tugu Perjuangan Rakyat, Thomas Parr Monumen, Rumah Pengasingan Bung Karno, Tugu Hamilton, Benteng York, Istana Sir Thomas Stanford Raffles, dan Rumah Ibu Fatmawati Soekarno. Sedangkan aset pusaka non-benda yang terdapat di Kota Bengkulu, yaitu Perayaan Kebudayaan Tabot, Tari Andun, Bidadari Teminang Anak, dan Pengrajin Batuk Besurek.

2016 - Penyusunan Masterplan Infrastruktur PUPR Kawasan Perkotaan PKN dan PKW di Pulau Sumatera dan Jawa: Bengkulu (Deluxe) TAMPILKAN
UNDUH

Berdasarkan Peraturan Pemerintah No. 26/2008 tentang Rencana Tata Ruang Wilayah Kota Bengkulu memiliki fungsi sebagai Pusat Kegiatan Nasional (PKN). Profil PKN Kota Bengkulu, Masterplan Pengembangan Infrastruktur PKN Kota Bengkulu tahun 2025, Development Plan Pengembangan Infrastruktur PKN Kota Bengkulu tahun 2015-2019, serta Program Utama PKN Kota Bengkulu tahun 2018 dibahas dalam buku deluxe ini.

2016 - Penyusunan Masterplan Infrastruktur PUPR Kawasan Perkotaan PKN dan PKW di Pulau Sumatera dan Jawa: Bengkulu (Laporan) TAMPILKAN
UNDUH

Muatan dalam laporan ini terdiri dari penyiapan panduan standar dan format profil, rencana dan program infrastruktur PUPR, identifikasi data-data dasar masing-masing kawasan perkotaan, identifikasi kebijakan pembangunan kawasan perkotaan dan infrastrukturnya dalam lingkup nasional, provinsi, dan kabupaten/kota, Pengumpulan data-data infrastruktur, Identifikasi isu strategis masing-masing PKN dan PKW berdasarkan data-data dasar, Analisis kebutuhan pembangunan infrastruktur PUPR untuk bidang sumber daya air, bidang jalan dan jembatan, bidang infrastruktur permukiman, dan bidang perumahan, serta Penyusunan Rencana dan Program Pembangunan Infrastruktur .