PU-net

BASIS DATA
PUSAT PENGEMBANGAN INFRASTRUKTUR PEKERJAAN UMUM DAN PERUMAHAN RAKYAT WILAYAH III

Profil Kota Langsa

Kota Langsa

Nanggroe Aceh Darussalam

FUNGSI KOTA
Pusat Kegiatan Wilayah (PKW)
TANGGAL PEMBENTUKAN
2001-10-17
KLASIFIKASI UKURAN KOTA
Kota Sedang
JUMLAH PENDUDUK
168.820 jiwa
LUAS WILAYAH
239,83 km2
WEBSITE PEMERINTAHAN

PROFIL KOTA

Kota Langsa merupakan kota pesisir yang terletak di pesisir timur pulau Sumatera dan memiliki garis pantai sepanjang 16 km. Kota Langsa merupakan kota pemekaran Kabupaten Aceh Timur dan merupakan salah satu kota otonom termuda di Provinsi Aceh setelah Kota Sabang dan Kota Subulussalam. Wilayah Kota Langsa berbatasan dengan Kabupaten Aceh Timur di sebelah barat, utara dan selatan, Kabupaten Aceh Tamiang di sebelah timur dan selatan, dan Selat Malaka di sebelah utara. Secara topografi, Kota Langsa terletak pada dataran aluviasi pantai dengan elevasi sekitar 8 mdpl di bagian barat daya dan selatan dibatasi oleh pegunungan lipatan bergelombang sedang, dengan elevasi sekitar 75 m, sedangkan di bagian timur merupakan endapan rawa-rawa dengan penyebaran cukup luas. Kota Langsa terdiri dari 5 kecamatan, yaitu Kecamatan Langsa Barat, Kecamatan Langsa Kota, Kecamatan Langsa Lama, Kecamatan Langsa Baro, dan Kecamatan Langsa Timur. 

Jumlah penduduk Kota Langsa tahun 2016 yaitu 168.820 jiwa yang terdiri dari 83.671 jiwa penduduk laki-laki dan 85.149 jiwa penduduk perempuan.Kepadatan penduduk di Kota Langsa pada tahun 2016 sebesar 704 jiwa/km2 dengan kecamatan terpadat yaitu Kecamatan Langsa Kota sebesar 6.744 jiwa/km2 dan kecamatan dengan kepadatan penduduk terendah yaitu Kecamatan Langsa Timur sebesar 194 jiwa/km2.  Laju pertumbuhan penduduk Kota Langsa cenderung positif setiap tahunnya. Pada tahun 2015-2016, laju pertumbuhan penduduknya mencapai 1,77%. Berdasarkan komposisi penduduk berdasarkan usia, jumlah penduduk berusia 0-9 tahun merupakan kelompok usia dengan jumlah terbanyak. Hal ini menunjukkan tingginya angka kelahiran di Kota Langsa. 

EKONOMI

Nilai PDRB Kota Langsa selalu meningkat selama periode 2011 – 2015 baik untuk PDRB atas dasar harga berlaku maupun PDRB atas dasar harga konstan. Sementara itu, sektor tersier memegang peranan terbesar dalam aktivitas perekonomian di Kota Langsa yang mencapai 71,8%. Kategori yang memegang peranan paling besar dalam pembentukan PDRB Kota Langsa pada tahun 2015 adalah kategori perdagangan besar dan eceran; reparasi mobil dan motor sebesar 29,84% dari total PDRB Kota Langsa. Selanjutnya adalah kategori industry pengolahan yang berperan sebesar 9,87%. Kategori dengan peranan terbesar ketiga adalah kategori konstruksi sebesar 9,11% pada tahun 2015.

SEJARAH

Zaman Pra Kemerdekaan

Perjuangan Masa Penjajahan Jepang

Pada tanggal 12 maret 1942, pasukan tentara Jepang mendarat dipantai Kuala Bugak Kecamatan Peureulak Kabupaten Aceh Timur, selanjutnya menyebar seluruh penjuru Aceh Timur dan sekitarnya. Masa penjajahan Jepang walaupun tidak berlangsung lama namun membawa akibatpenderitaan yang cukup memprihatinkan, seluruh rakyat hidup dalam kondisi kurang pangan dan sandang disertai dengan perlakuan kasar dari bala tentara Jepang terhadap rakyat yang tidak manusiawi, akibatnya timbullah perlawanan/pemberontakan rakyat.

Setelah Hirosima dan Nagasaki di bom atom oleh pasukan sekutu pada tanggal 10 Agustus 1945 Jepang menyerah tanpa syarat, atas inisiatif dari pemuka-pemuka masyarakat di Langsa, Idi dan beberapa kota lainnya, mengadakan permusyawaratan untuk melakukan perlawanan terhadap bala tentara Jepang secara bersama dan terkoordinir. Di bawah pimpinan Oesman Adamy (O.A) dan dibantu oleh sejumlah pemuda yang begitu bersemangat, mengerahkan rakyat di setiap kota guna menyerbu tangsi Jepang. Pada penyerbuan pagi hari, tanggal 5 Desember 1945 rakyat berhasil merebut sejumlah senjata, peluru dan amunisi, kemudian pada tanggal 8 Desember 1945 dibawah pimpinan Mayor Bachtiar juga rakyat mampu merebut senjata, peluru dan amunisi, selanjutnya kesemua rampasan senjata tersebut dibagikan kepada rakyat/pemuda yang dikenal dengan nama Angkatan Pemuda Indonesia (A.P.I) dibentuk pada awal Oktober 1945, atas prakarsa pemuda bekas tentara jepang yang bergabung dalam GIU GUN, HEIHO, TOKOBETSU dan lain-lain. Sejalan dengan lahirnya API di Aceh, maka secara nasional di Jakarta diresmikan suatu organisasi kemiliteran dengan nama Tentara Keamanan Rakyat (TKR) yang merupakan cikal bakal TNI sekarang. Setelah tentara Jepang kalah perang dan menyerah tanpa syarat kepada sekutu, mereka ditarik ke daerah Sumatera Utara dipusatkan di Medan. Pada tanggal 18 Desember 1945 tentara Jepang mengadakan penyerbuan ke Aceh Timur dengan persenjataan yang serba lengkap, namun tetap mendapat perlawanan dari rakyat dan TKR dengan menghadangnya di daerah Halaban Sumatera Utara, pada pertempuran ini tentara Jepang tidak sampai ke Aceh Timur dan kembali ke Medan. Berselang satu minggu, yaitu tanggal 24 Desember 1945 tentara Jepang kembali mengadakan penyerbuan disertai jumlah personil yang lebih besar dengan persenjataan yang lebih lengkap, dipimpin oleh seorang jenderal Nakamura.

Kekuatan senjata yang tidak seimbang, mengakibatkan tidak mampunya pasukan TKR dan rakyat menghadapi bala tentara Jepang di perbatasan Sumatera Utara - Aceh. Di dasari semangat juang rakyat begitu tinggi, maka pasukan bala tentara Jepang tetap mendapat perlawanan sepanjang jalan raya antara Kuala Simpang - Langsa (Meudang Ara, Bukit Meutuah, Sei Lueng) di bawah pimpinan Mayor Bachtiar.

Perlawanan yang dilakukan oleh pasukan TKR dan rakyat begitu gigihnya, sehingga sejumlah pasukan TKR dan rakyat gugur, terpaksa pasukan TKR dan rakyat mundur sampai di pertahanan Bukit Rata, Bukit Meutuah dan Batu Putih daerah Sungai Lueng. Pasukan Jepang terus bergerak maju sampai ke Titi Kembar. Di Titi Kembar kembali mendapat perlawanan rakyat dengan memasang rintangan dari pepohonan di sepanjang jalan, tujuannya adalah menghambat lajunya gerakan tentara Jepang memasuki Kota Langsa. Di saat tentara Jepang membuka rintangan, rakyat melakukan penyerangan dengan persenjataan yang lengkap, terpaksa pasukan rakyat mundur ke daerah perkampungan, sementara pasukan Jepang terus bergerak maju ke Kota Langsa. Pasukan rakyat yang mundur sebagian menuju ke arah Selatan sampai ke Kebun Lamadan sebagian lagi ke arah Utara dan berkumpul di Meunasah Sei Pauh dalam keadaan lapar dahaga.

Dalam pemeriksaan pasukan TKR dan rakyat diketahui beberapa anggota Palang Merah tidak hadir diduga mereka telah gugur. Kenyataannya benar bahwa komandan pasukan Palang Merah (Sdr. Mansur Bahar) bersama beberapa orang anggotanya tewas dalam kontak senjata di sekitar Batu Putih-Titi Kembar. Semangat Patriotisme rakyat untuk mengusir penjajah cukup meluap-luap walaupun dengan pengorbanan harta dan nyawa, hal ini terbukti beberapa hari setelah peristiwa di Titi Kembar pasukan TKR dan rakyat kembali bergabung di Birem Bayeun (± 5 Km dari Kota Langsa arah ke Barat), dipimpin oleh Kapten Hanafiah dan Tgk. Ismail Usman merencanakan penyerbuan ke Kota Langsa. Dalam perjalanan menuju ke Kota Langsa mendapat informasi bahwa tentara Jepang telah meninggalkan Kota Langsa menuju Medan dengan membawa seluruh perbekalan. Pasukan TKR dan rakyat terus melanjutkan perjalanan memasuki Kota Langsa langsung ke pendopo dan bermarkas di pendopo. Setelah situasi normal seluruh pasukan dikembalikan ke induk pasukannya masing-masing.

Zaman Pasca Kemerdekaan

Sebelum ditetapkan menjadi kota, Langsa adalah bagian dari Kabupaten Aceh Timur yang Ibukota kabupatennya adalah Langsa dan merupakan Kota Administratif yang dibentuk berdasarkan Peraturan Pemerintah Nomor 64 Tahun 1991 Tanggal 22 Oktober 1991, dan diresmikan oleh Menteri Dalam Negeri Republik Indonesia pada tanggal 2 April 1992. Kemudian, sesuai dengan perkembangan Provinsi Nanggroe Aceh Darussalam baik dari segi budaya, politik dan ekonomi, provinsi ini semakin dituntut mengembangkan diri, khususnya dari segi pemerintahan sehingga pada tahun 2001 terbentuklah Kota Langsa yang merupakan pemekaran dari Kabupaten Aceh Timur berdasarkan Undang-Undang Nomor 3 Tahun 2001 pada tanggal 21 Juni 2001 dan peresmiannya dilaksanakan di Jakarta pada tanggal 17 Oktober 2001 oleh Menteri dalam Negeri atas nama Presiden Republik Indonesia, pejabat Walikota Pertama Yaitu H. Azhari Aziz, SH, MM yang dilantik oleh Gubernur Nanggroe Aceh Darussalam pada tanggal 2 November 2001 di Banda Aceh. Dan sebagai Walikota Definitif hasil Pilkadasung 2006 adalah Drs. Zulkifli Zainon, MM yang dilantik oleh Gubernur Nanggroe Aceh Darussalam pada tanggal 14 Maret 2007 di Langsa. Pada awal terbentuknya Kota Langsa terdiri dari 3 Kecamatan yaitu Kecamatan Langsa Barat, Kecamatan Langsa Kota dan Kecamatan Langsa Timur dengan jumlah desa sebanyak 45 desa (gampong) dan 6 Kelurahan. Kemudian dimekarkan menjadi 5 kecamatan berdasarkan Qanun Kota Langsa No 5 Tahun 2007 tentang Pembentukan Kecamatan Langsa lama dan Langsa Baro.

Pemekaran Wilayah Kota Langsa

Pada awal terbentuknya Kota Langsa terdiri dari 3 Kecamatan yaitu Kecamatan Langsa Barat, Kecamatan Langsa Kota dan Kecamatan Langsa Timur dengan jumlah desa sebanyak 45 desa (gampong) dan 6 Kelurahan. Kemudian dimekarkan menjadi 5 kecamatan berdasarkan Qanun Kota Langsa No 5 Tahun 2007 tentang Pembentukan Kecamatan Langsa Lama dan Langsa Baro. Mulai tahun 2011 gampong di Kota Langsa kini bertambah sebanyak 15 gampong hasil pemekaran gampong yang telah ada berdasarkan Qanun Kota Langsa No. 4 Tahun 2010, sehingga jumlah gampong di Kota Langsa kini berjumlah 66. Qanun Kota Langsa No.4 tahun 2010 merupakan pengganti Qanun Kota Langsa Tahun 2008, dalam Qanun tersebut dijabarkan bahwa dari lima kecamatan yang ada di Kota Langsa hanya gampong-gampong di Kecamatan Langsa Kota yang tidak mengalami pemekaran. Sedangkan di kecamatan lainnya terdapat gampong yang mengalami pemekaran. Untuk Kecamatan Langsa Timur, gampong yang mengalami pemekaran adalah Gampong Alue Pineung dan Sungai Lueng. Gampong Alue Pineung pecah menjadi 2 gampong yaitu Alue Pineung dan Alue Pineung Timue, begitu juga dengan Gampong Sungai Lueng yang pecah menjadi dua gampong yaitu Gampong Sungai Lueng dan Gampong Kapa, dengan penambahan dua gampong baru di Langsa Timur, jumlah gampong di Langsa Timur kini menjadi 16 gampong. Selanjutnya kecamatan yang gampongnya mengalami pemekaran adalah Kecamatan Langsa Lama, penambahan gampong baru hasil pemekaran di Langsa Lama merupakan yang terbanyak dibandingkan dengan kecamatan lain yaitu bertambah sebanyak 6 gampong, sehingga jumlah gampong di Kecamatan Langsa Lama kini berjumlah 15 gampong dari sebelumnya yang berjumlah hanya 9 Gampong. Gampong yang mengalami pemekaran antara lain adalah:

  • Seulalah yang pecah menjadi 2 gampong yaitu Gampong Seulalah dan Seulalah Baru
  • Pondok Pabrik pecah menjadi 2 gampong yaitu Gampong Pondok Pabrik dan Gampong Sukajadi Kebun Ireng
  • Meurandeh pecah menjadi 4 gampong yaitu Gampong Meurandeh, Meurandeh Teungoh, Meurand eh Dayah dan Meurandeh Aceh
  • Baroh Langsa Lama pecah menjadi 2 gampong yaitu Gampong Baroh Langsa Lama dan Gampong Batee Puteh

Untuk Kecamatan Langsa Barat, terdapat 4 gampong baru hasil pemekaran yaitu Gampong Sungai Pauh Pusaka, Sungai Pauh Tanjong, Sungai Pauh Firdaus ketiga gampong ini merupakan hasil pemekaran dari Gampong Sungai Pauh, sedangkan gampong yang keempat adalah Gampong Serambi Indah. Gampong Serambi Indah merupakan hasil penggabungan seluruh wilayah BTN Seuriget yang dulunya terdiri dari 3 bagian gampong. Sebagian wilayah BTN Seuriget masuk ke Gampong Seuriget, sedangkan sebagian lainnya masuk ke wilayah Gampong PB. Beuramo dan Gampong Birem Puntong. Sekarang seluruh wilayah BTN digabungkan menjadi satu gampong baru yaitu Gampong Serambi Indah.

Kecamatan terakhir yang terjadi pemekaran gampong adalah Kecamatan Langsa Baro, di kecamatan ini terdapat 3 gampong baru hasil pemekaran, yang pertama adalah Gampong Alue Dua Bakaran Batee yang merupakan pemekaran dari Gampong Alue Dua, berikutnya Gampong Lengkong yang merupakan pemekaran Dusun Lengkong Gp. Geudubang Jawa ditambah wilayah Dusun Lengkong Gp. Geudubang Aceh, yang terakhir adalah Gampong Sukajadi Makmur yang merupakan pemekaran dari Gp. Geudubang Aceh wilayahnya terdiri dari DusunTrom, dan Dusun Alur Buaya.

2016 - Penyusunan Masterplan Infrastruktur PUPR Kawasan Perkotaan PKN dan PKW di Pulau Sumatera dan Jawa: Langsa (Deluxe) TAMPILKAN
UNDUH

Berdasarkan PP No 26/2008 tentang Rencana Tata Ruang Wilayah Nasional Tahun 2008-2028, Kota Langsa ditetapkan sebagai Pusat Kegiatan Wilayah (PKW). Arahan pengembangannya adalah Pengembangan jalan bebas hambatan Binjai – Langsa, dan Langsa – Lhokseumawe.

2016 - Penyusunan Masterplan Infrastruktur PUPR Kawasan Perkotaan PKN dan PKW di Pulau Sumatera dan Jawa: Langsa (Laporan) TAMPILKAN
UNDUH

Muatan dalam laporan ini terdiri dari penyiapan panduan standar dan format profil, rencana dan program infrastruktur PUPR, identifikasi data-data dasar masing-masing kawasan perkotaan, identifikasi kebijakan pembangunan kawasan perkotaan dan infrastrukturnya dalam lingkup nasional, provinsi, dan kabupaten/kota, Pengumpulan data-data infrastruktur, Identifikasi isu strategis masing-masing PKN dan PKW berdasarkan data-data dasar, Analisis kebutuhan pembangunan infrastruktur PUPR untuk bidang sumber daya air, bidang jalan dan jembatan, bidang infrastruktur permukiman, dan bidang perumahan, serta Penyusunan Rencana dan Program Pembangunan Infrastruktur .