PU-net

BASIS DATA
PUSAT PENGEMBANGAN INFRASTRUKTUR PEKERJAAN UMUM DAN PERUMAHAN RAKYAT WILAYAH III

Profil Kota Banda Aceh

Kota Banda Aceh

Nanggroe Aceh Darussalam

FUNGSI KOTA
Pusat Kegiatan Nasional (PKN)
TANGGAL PEMBENTUKAN
1205-04-29
KLASIFIKASI UKURAN KOTA
Kota Sedang
JUMLAH PENDUDUK
254.904 jiwa
LUAS WILAYAH
61,36 km2

PROFIL KOTA

Kota Banda Aceh secara astronomis terletak antara 05°16'15" - 05°36'16" Lintang Utara dan 95°16'15" - 95°22'35" Bujur Timur dan memiliki luas wilayah 61,36 km2. Kota Banda Aceh memiliki batasan wilayah yang meliputi, sebelah utara berbatasan dengan Selat Malaka, sebelah selatan berbatasan dengan Kabupaten Aceh Besar, sebelah barat berbatasan dengan Samudera Hindia, sebelah timur dengan Kabupaten Aceh Besar. 

Kota Banda Aceh merupakan dataran rawan banjir dari luapan Sungai Krueng Aceh dan 70% wilayahnya berada pada ketinggian kurang dari 10 meter dari permukaan laut. Ke arah hulu dataran ini menyempit dan bergelombang dengan ketinggian hingga 50 m di atas permukaan laut. Dataran ini diapit oleh perbukitan terjal di sebelah Barat dan Timur dengan ketinggian lebih dari 500 m, sehingga mirip kerucut dengan mulut menghadap ke laut. Daerah pesisir Kota Banda Aceh secara garis besar dibagi menjadi:

  1. Dataran terdapat di pesisir pantai utara dari Kecamatan Kuta Alam hingga sebagian Kecamatan Kuta Raja 
  2. Pesisir pantai wilayah barat di sebagian Kecamatan Meuraxa.

Kondisi tanah yang umumnya terdapat di Kota Banda Aceh secara umum dan khususnya di daerah pesisir ini didominasi oleh jenis tanah Podzolik Merah Kuning (PMK) dan Regosol dengan tekstur tanah antara sedang sampai kasar.

Kepadatan penduduk Kota Banca Aceh yaitu 4.154 jiwa/km2. Angka pertumbuhan penduduk Kota Banda Aceh cukup fluktuatif pada rentang waktu tahun 2006-2015 dengan rata-rata 2,67% per tahun. Konsentrasi kepadatan penduduk tertinggi berada di Kecamatan Kuta Alam dengan jumlah penduduk sebanyak 50.618 jiwa atau 15% dari jumlah penduduk Kota Banda Aceh. 

Dalam RPJMN 2015-2019,  Kota Banda Aceh diarahkan sebagai Pusat Kegiatan Nasional (PKN) sebagai pusat koleksi dan distribusi skala regional untuk produksi pertanian, pariwisata, dan perikanan laut. Kota Banda Aceh juga termasuk ke dalam Kawasan Strategis Nasional KAPET Banda Aceh Darussalam. Potensi wisata yang terdapat di Kota Banda Aceh terdiri dari potensi wisata alam, wisata jejak historis bencana tsunami, wisata spiritual, serta wisata sejarah dan jejak purbakala.

EKONOMI

Perkembangan riil PDRB Kota Banda Aceh dilihat berdasarkan PDRB atas dasar harga konstan (ADHK) dengan tahun dasar 2010. Nilai PDRB ADHK Kota Banda Aceh pada tahun 2015 telah mencapai sebesar Rp 12,73 triliun, naik sebesar 606,87 trilitun dari tahun 2014. Nilai PDRB ADHK Kota Banda Aceh selama 4 tahun terakhir telah mengalami kenaikan rata-rata sebesar Rp 551,76 miliar per tahun. Kenaikan nilai PDRB ADHB selama 4 tahun terakhir terlihat 1,8 kali lipat dari kenaikan PDRB ADHK. Hal ini menunjukkan bahwa kenaikan yang disebabkan oleh harga memberikan pengaruh yang hampir sama dengan kenaikan akibat peningkatan produksi.

Kondisi ekonomi Kota Banda Aceh dilihat dari pertumbuhan eknominya masih terus mengalami peningkatan dari waktu ke waktu. Bila mengacu terhadap PDRB tahun dasar 2010, maka rata-rata pertumbuhan ekonomi Kota Banda Aceh selama 4 tahun terakhir adalah sebesar 5,25 persen. Pada tahun 2015 sendiri, laju pertumbuhan ekonomi Kota Banda Aceh mencapai 5,01 oersen yang menunjukkan akselerasi lebih baik dari tahun 2014 sebesar 4,5 persen.

Dari sisi pengeluaran, penyumbang terbesar atas pertumbuhan ekonomi Kota Banda Aceh berasal dari komponen Pembentukan Modal Tetap Bruto (PMTB). Sumbangan tersebut berasal dari PMTB konstruksi, selaras dengan sumbangan besar kategori konstruksi dari sisi lapangan usaha. Pada tahun 2015, komponen PMTB menyumbang 4,47 poin atas laju pertumbuhan Kota Banda Aceh.

ASET PUSAKA

Kota Banda Aceh memiliki beberapa aset pusaka baik yang berupa aset pusaka tangible berupa benda/bangunan/situs bersejarah maupun aset pusaka non-benda yang berupa tarian, prosesi adat, dan sebagainya. Aset pusaka bangunan/situs bersejarah yang terdapat di Kota Banda Aceh yaitu Gunongan, Kerkhoff, Masjid Raya Baiturrahman, Pintu Khop Putroe Phang, Makam Kandang XII, Makam Syiah Kuala, Museum Tsunami Aceh, Pendopo Gubernur, Lonceng Cakra Donya, Gedung De Javasche/Bank Indonesia, Gedung Sentral Telepon Belanda, dan Tower Air Belanda. Sedangkan aset pusaka non-benda yang terdapat di Kota Banda Aceh, yaitu Tari Rapai Geleng, Tari Seudati, dan Tari Rateb Meuseukat.

2016 - Program Pengembangan Kota Kompak Cerdas Banda Aceh (Paparan) TAMPILKAN
UNDUH

Tujuan dari program pengembangan kota kompak cerdas ini adalah untuk menyusun rencana dan program pembangunan infrastruktur bidang PUPR di kawasan perkotaan dalam kerangka pembangunan perkotaan tematik berkelanjutan yaitu hijau, kompak, cerdas, lestari/berbudaya dan berketahanan. Lokasi Kota Kompak Cerdas di Kota Banda Aceh terletak di Kawasan Kota Lama Penayong. Isu strategis yang terdapat di kelurahan tersebut yaitu: 1. Ancaman gempa bumi-tsunami 2. Belum ada keseriusan mengenai pelestarian bangunan pusaka 3. Perlu revitalisasi Pasar Penayong Tema Kota Kompak Cerdas untuk Kota Banda Aceh adalah Kota Hijau Pusaka/Berketahanan.

2015 - Inkubasi Pengembangan Kota Cerdas di 5 Kota: Banda Aceh (Laporan) TAMPILKAN
UNDUH

Maksud dari pelaksanaan Inkubasi Pengembangan Kota Cerdas (Kota Cerdas (smart city)) di 5 Kota (Kota Bandung, Kota Bogor, Kota Tangerang, Kota Makassar dan Kota Banda Aceh) adalah untuk mengembangkan kota cerdas berkelanjutan (sustainable Kota Cerdas (smart city)) di Indonesia, khususnya pada kota-kota yang sudah memiliki embrio pertumbuhan sebagai kota cerdas.