PU-net

BASIS DATA
PUSAT PENGEMBANGAN KAWASAN PERKOTAAN

Kawasan Perdesaan Prioritas Nasional (KPPN) Kolonedale

Kawasan Perdesaan Prioritas Nasional (KPPN) Kolonedale

Kolonedale
Provinsi Sulawesi Tengah

FUNGSI KOTA
Pusat Pertumbuhan Baru
KLASIFIKASI UKURAN KOTA
Kawasan Perdesaan
JUMLAH PENDUDUK
9.064 Jiwa
LUAS WILAYAH
183,52 Km2
WEBSITE PEMERINTAHAN

DELINEASI KPPN KOLONEDALE (KAB. MOROWALI)

Berdasarkan hasil koordinasi dengan Pemerintah Kabupaten Morowali, delineasi wilayah KPPN Morowali terdiri atas 16 (enam belas) desa di Kecamatan Bungku Selatan dengan luas total 183,52 Km2.

Luas wilayah KPPN Morowali Kabupaten Morowali berdasarkan hasil delineasi secara lebih rinci disajikan pada tabel berikut.

No Desa Luas
1 Pado-pado 13,83
2 Bungingkela 12,87
3 Padabale 15,72
4 Boelimau 9,27
5 Kaleroang 7,4
6 Buton 7,91
7 Koburu 8,9
8 Polewali 20,08
9 Umbele 8,72
10 Umbele Lama 3,3
11 Paku 11,1
12 Buajangka 13,89
13 Bakala 19,79
14 Lakombulo 11,87
15 Jawi-jawi 13,86
16 Pulau Dua 5,01
Jumlah 183,52

JUMLAH PENDUDUK KPPN KOLONEDALE (KAB. MOROWALI)

Untuk jumlah penduduk tertinggi pada KPPN Morowali Kabupaten Morowali tahun 2015 terdapat pada Desa Kaleroang dengan jumlah penduduk 1.215 jiwa, sedangkan jumlah penduduk yang terendah berada pada Desa Padabale dengan jumlah penduduk 252 Jiwa.

No Desa Jumlah
1 Pado-pado 525
2 Bungingkela 629
3 Padabale 252
4 Boelimau 413
5 Kaleroang 1.215
6 Buton 856
7 Koburu 256
8 Polewali 448
9 Umbele 371
10 Umbele Lama 603
11 Paku 469
12 Buajangka 614
13 Bakala 940
14 Lakombulo 512
15 Jawi-jawi 427
16 Pulau Dua 524
Jumlah 9.064

9.064

KINERJA INFRASTRUKTUR KPPN KOLONEDALE (KAB. MOROWALI)

Jalan

Berdasarkan panjangnya, total panjang jaringan jalan di Wilayah KPPN Morowali adalah sepanjang 27,86 km yang terdiri jalan Desa  ± 25,46 km, jalan Non Status ± 2,4 km. Berdasarkan hasil observasi lapangan kondisi sarana jalan belum baik hampir semua jalan lingkungan sudah belum teraspal hanya beberapa ruas saja yang sudah diaspal.

Permukiman

Pola penyebaran permukiman di KPPN Morowali Kabupaten Morowali pada umumnya mengelompok dan mengikuti jaringan jalan. 

Air Bersih

Sebagian besar penduduk di KPPN Morowali – Kabupaten Morowali memperoleh air bersih. Secara umum sumber air baku di KPPN Morowali – Kabupaten Morowali berasal dari sumber air sumur dangkal dan sumur dalam yang dikelola oleh masyarakat desa untuk melayani kebutuhan rumah tangga masyarakat.

Persampahan

Sistem persampahan di KPPN Morowali – Kabupaten Morowali masih belum dikelola secara baik karena sistem persampahan belum di tangani oleh instansi terkait. Pada umumnya masyarakat di KPPN Morowali – Kabupaten Morowali membuang sampahnya masih dengan sistem buang di halaman kemudian di bakar, belum ada petugas dari dinas terkait yang mengambil sampah-sampah rumah tangga langsung ke tiap rumah.

Kesehatan

Sarana kesehatan yang terdapat di Wilayah KPPN Morowali – Kabupaten Morowali terdiri atas sarana kesehatan berupa Puskesmas, Puskesmas Pembantu, Poskesdes, dan Prakter Dokter. Jumlah sarana kesehatan terbanyak di Wilayah KPPN Morowali – Kabupaten Morowali adalah Posyandu dan pos KB yaitu masing-masing sebanyak 14 unit, sedangkan sarana kesehatan paling sedikit yaitu Puskesmas pembantu yaitu sebanyak 1 unit.

Energi

Suplai energi dalam pemenuhan kebutuhan masyarakat di KPPN Morowali bersumber dari PLTD yang dikelola swasta.

POTENSI KPPN KOLONEDALE (KAB. MOROWALI)

Perikanan

Sentra produksi yang paling dominan yang ada di KPPN Morowali yaitu perikanan, sedangkan komoditas unggulannya yaitu rumput laut. Dengan lokasi pemasaran rumput laut yaitu keluar daerah KPPN Morowali yaitu di dominasi pemasarannya ke Kota Kendari.

2017 - Penyusunan Masterplan dan Pra Desain KPPN Kolonedale, Morowali (Deluxe) TAMPILKAN
UNDUH

KPPN merupakan kawasan perdesaan potensial dengan komoditas unggulan tertentu yang mendukung pengembangan 40 (empat puluh) pusat pertumbuhan yang telah ditetapkan dalam RPJMN. Dengan adanya KPPN, program-program lintas K/L yang terkait dengan pengembangan kawasan perdesaan dapat difokuskan pada lokasi-lokasi KPPN tersebut, sehingga pada akhir tahun penanganan yaitu tahun 2019 didapatkan kawasan perdesaan yang sudah dikembangkan secara komprehensif sehingga mampu berdikari, menjadi pilar pengembangan ekonomi wilayah, mensejahterakan masyarakat, dan dapat direplikasi pada kawasan-kawasan perdesaan lain di seluruh Indonesia.