PU-net

BASIS DATA
PUSAT PENGEMBANGAN KAWASAN PERKOTAAN

Profil Kota Medan

Kota Medan

Sumatera Utara

FUNGSI KOTA
Pusat Kegiatan Nasional (PKN)
TANGGAL PEMBENTUKAN
1590-07-01
KLASIFIKASI UKURAN KOTA
Kota Metropolitan
JUMLAH PENDUDUK
2.229.408 jiwa
LUAS WILAYAH
265,1 km2
WEBSITE PEMERINTAHAN

PROFIL KOTA

Kota Medan sebagai ibukota Provinsi Sumatera Utara merupakan kota terbesar di kawasan timur pulau Sumatera. Wilayah Kota Medan berbatasan langsung dengan Kabupaten Deli Serdang di sebelah barat, timur, dan selatan serta Selat Malaka di sebelah utara. Sebagian besar wilayah Kota Medan merupakan dataran rendah dengan ketinggian antara 2,5-37,5 mdpl. Secara administratif, Kota Medan terdiri dari 21 kecamatan yaitu Kecamatan Medan Tuntungan, Kecamatan Medan Johor, Kecamatan Medan Amplas, Kecamatan Medan Denai, Kecamatan Medan Area, Kecamatan Medan Kota, Kecamatan Medan Maimun, Kecamatan Medan Polonia, Kecamatan Medan Baru, Kecamatan Medan Selayang, Kecamatan Medan Sunggal, Kecamatan Medan Helvetia, Kecamatan Medan Petisah, Kecamatan Medan Barat, Kecamatan Medan Timur, Kecamatan Medan Perjuangan, Kecamatan Medan Tembung, Kecamatan Medan Deli, Kecamatan Medan Labuhan, Kecamatan Medan Marelan, dan Kecamatan Medan Belawan.

Pada tahun 2016, penduduk Kota Medan berjumlah 2.229.408 jiwa dengan laju pertumbuhan penduduk sebesar 0,85% dan kepadatan penduduk mencapai 8.409 jiwa/km2. Jumlah penduduk laki-laki di Kota Medan yaitu 1.101.020 jiwa, lebih sedikit dibandingkan dengan jumlah penduduk perempuannya sebanyak 1.128.388 jiwa. Kepadatan penduduk Kota Medan paling tinggi berada di Kecamatan Medan Area yang mencapai 17.939 jiwa/km2 dan Kecamatan Medan Tembung sebesar 17.176 jiwa/km2. Sedangkan kecamatan dengan kepadatan penduduk paling rendah yaitu Kecamatan Medan Labuhan sebesar 3.233 jiwa/km2. 

Dalam sistem perkotaan nasional, Kota Medan telah ditetapkan sebagai Pusat Kegiatan Nasional (PKN). Dalam RPJMN 2015-2019,  Kota Medan termasuk ke dalam Kawasan Perkotaan Metropolitan Mebidangro dan diarahakan sebagai Pusat Kegiatan Nasional (PKN) berskala global yang diarahkan sebagai pusat administrasi pelintas batas yang berfungsi sebagai outlet pemasaran untuk wilayah Sumatera Utara bagian Timur dengan tetap memantapkan fungsi-fungsi keterkaitan dengan pusat-pusat pertumbuhan wilayah internasional. Kota Medan juga termasuk ke dalam Kawasan Strategis Nasional Perkotaan Mebidangro. 

EKONOMI

Melalui penghitungan PDRB dengan tahun dasar 2010, diketahui laju pertumbuhan ekonomi Kota Medan pada tahun 2015 mengalami perlambatan bila dibandingkan dengan tahun sebelumnya. Pada tahun 2015 pertumbuhan ekonomi Kota Medan sebesar 5,74%, sedangkan tahun 2014 mencapai 6,05%. Hal ini disebabkan mayoritas lapangan usaha mengalami perlambatan pertumbuhan. Seperti kebanyakan kota lainnya, Medan sebagai kota terbesar di Pulau Sumatera juga bergantung pada sektor perdagangan besar dan eceran; reparasi mobil dan sepeda motor yang dapat dilihat kontribusi sektor tersebut pada PDRB Medan pada tahun 2015 mecapai 24,77%, disusul sektor konstruksi sebesar 18,59%, dan sektor industry pengolahan sebesar 15,54%. Ketiga sektor tersebut merupakan sektor dominan yang berkontribusi terhadap PDRB Kota Medan.

SEJARAH

Medan Tanah Deli

Pada zaman dahulu Kota Medan ini dikenal dengan nama Tanah Deli dan keadaan tanahnya berawa-rawa kurang lebih seluas 4000 Ha. Beberapa sungai melintasi Kota Medan ini dan semuanya bermuara ke Selat Malaka. Sungai-sungai itu adalah Sei Deli, Sei Babura, Sei Sikambing, Sei Putih, Sei Badra, Sei Belawan dan Sei Sulang Saling/Sei Kera.

Pada mulanya yang membuka perkampungan Medan adalah Guru Patimpus lokasinya terletak di Tanah Deli, maka sejak zaman penjajahan orang selalu merangkaikan Medan dengan Deli (Medan–Deli). Setelah zaman kemerdekaan lama kelamaan istilah Medan Deli secara berangsur-angsur lenyap sehingga akhirnya kurang popular. Dahulu orang menamakan Tanah Deli mulai dari Sungai Ular (Deli Serdang) sampai ke Sungai Wampu di Langkat sedangkan Kesultanan Deli yang berkuasa pada waktu itu wilayah kekuasaannya tidak mencakup daerah diantara kedua sungai tersebut.

Secara keseluruhan jenis tanah di wilayah Deli terdiri dari tanah liat, tanah pasir, tanah campuran, tanah hitam, tanah coklat dan tanah merah. Hal ini merupakan penelitian dari Van Hissink tahun 1900 yang dilanjutkan oleh penelitian Vriens tahun 1910 bahwa disamping jenis tanah seperti tadi ada lagi ditemui jenis tanah liat yang spesifik. Tanah liat inilah pada waktu penjajahan Belanda ditempat yang bernama Bakaran Batu (sekarang Medan Tenggara atau Menteng) orang membakar batu bata yang berkwalitas tinggi dan salah satu pabrik batu bata pada zaman itu adalah Deli Klei.

Mengenai curah hujan di Tanah Deli digolongkan dua macam yakni : Maksima Utama dan Maksima Tambahan. Maksima Utama terjadi pada bulan-bulan Oktober s/d bulan Desember sedang Maksima Tambahan antara bulan Januari s/d September. Secara rinci curah hujan di Medan rata-rata 2000 pertahun dengan intensitas rata-rata 4,4 mm/jam.

Menurut Volker pada tahun 1860 Medan masih merupakan hutan rimba dan disana sini terutama dimuara-muara sungai diselingi pemukiman-pemukiman penduduk yang berasal dari Karo dan semenanjung Malaya. Pada tahun 1863 orang-orang Belanda mulai membuka kebun Tembakau di Deli yang sempat menjadi primadona Tanah Deli. Sejak itu perekonomian terus berkembang sehingga Medan menjadi Kota pusat pemerintahan dan perekonomian di Sumatera Utara.

Kampung Medan dan Tembakau Deli

Pada awal perkembangannya merupakan sebuah kampung kecil bernama "Medan Putri". Perkembangan Kampung "Medan Putri" tidak terlepas dari posisinya yang strategis karena terletak di pertemuan sungai Deli dan sungai Babura, tidak jauh dari jalan Putri Hijau sekarang. Kedua sungai tersebut pada zaman dahulu merupakan jalur lalu lintas perdagangan yang cukup ramai, sehingga dengan demikian Kampung "Medan Putri" yang merupakan cikal bakal Kota Medan, cepat berkembang menjadi pelabuhan transit yang sangat penting.

Semakin lama semakin banyak orang berdatangan ke kampung ini dan isteri Guru Patimpus yang mendirikan kampung Medan melahirkan anaknya yang pertama seorang laki-laki dan dinamai si Kolok. Mata pencarian orang di Kampung Medan yang mereka namai dengan si Sepuluh dua Kuta adalah bertani menanamada. Tidak lama kemudian lahirlah anak kedua Guru Patimpus dan anak inipun laki-laki dinamai si Kecik.

Pada zamannya Guru Patimpus merupakan tergolong orang yang berfikiran maju. Hal ini terbukti dengan menyuruh anaknya berguru (menuntut ilmu) membaca Alqur‘an kepada Datuk Kota Bangun dan kemudian memperdalam tentang agama Islam ke Aceh. Keterangan yang menguatkan bahwa adanya Kampung Medan ini adalah keterangan H. Muhammad Said yang mengutip melalui buku Deli In Woord en Beeld ditulis oleh N.Ten Cate. Keterangan tersebut mengatakan bahwa dahulu kala Kampung Medan ini merupakan Benteng dan sisanya masih ada terdiri dari dinding dua lapis berbentuk bundaran yang terdapat dipertemuan antara dua sungai yakni Sungai Deli dan sungai Babura.

Rumah Administrateur terletak diseberang sungai dari kampung Medan. Kalau kita lihat bahwa letak dari Kampung Medan ini adalah di Wisma Benteng sekarang dan rumah Administrateur tersebut adalah kantor PTP IX Tembakau Deli yang sekarang ini. Sekitar tahun 1612 setelah dua dasa warsa berdiri Kampung Medan, Sultan Iskandar Muda yang berkuasa di Aceh mengirim Panglimanya bernama Gocah Pahlawan yang bergelar Laksamana Kuda Bintan untuk menjadi pemimpin yang mewakili kerajaan Aceh di Tanah Deli.

Gocah Pahlawan membuka negeri baru di Sungai Lalang, Percut. Selaku Wali dan Wakil Sultan Aceh serta dengan memanfaatkan kebesaran imperium Aceh, Gocah Pahlawan berhasil memperluas wilayah kekuasaannya, sehingga meliputi Kecamatan Percut Sei Tuan dan Kecamatan Medan Deli sekarang. Dia juga mendirikan kampung-kampung Gunung Klarus, Sampali, Kota Bangun, Pulau Brayan, Kota Jawa, Kota Rengas Percut dan Sigara-gara.

Dengan tampilnya Gocah pahlawan mulailah berkembang Kerajaan Deli dan tahun 1632 Gocah Pahlawan kawin dengan putri Datuk Sunggal. Setelah terjadi perkawinan ini raja-raja di Kampung Medan menyerah pada Gocah Pahlawan. Gocah Pahlawan wafat pada tahun 1653 dan digantikan oleh puteranya Tuangku Panglima Perunggit, yang kemudian memproklamirkan kemerdekaan Kesultanan Deli dari Kesultanan Aceh pada tahun 1669, dengan ibukotanya di Labuhan, kira-kira 20 km dari Medan.

Jhon Anderson seorang Inggris melakukan kunjungan ke Kampung Medan tahun 1823 dan mencatat dalam bukunya Mission to the East Coast of Sumatera bahwa penduduk Kampung Medan pada waktu itu masih berjumlah 200 orang tapi dia hanya melihat penduduk yang berdiam dipertemuan antara dua sungai tersebut. Anderson menyebutkan dalam bukunya ―Mission to the East Coast of Sumatera― (terbitan Edinburg 1826) bahwa sepanjang sungai Deli hingga ke dinding tembok mesjid Kampung Medan di bangun dengan batu-batu granit berbentuk bujur sangkar. Batu-batu ini diambil dari sebuah Candi Hindu Kuno di Jawa.

Pesatnya perkembangan Kampung "Medan Putri", juga tidak terlepas dari perkebunan tembakau yang sangat terkenal dengan tembakau Delinya, yang merupakan tembakau terbaik untuk pembungkus cerutu. Pada tahun 1863, Sultan Deli memberikan kepada Nienhuys Van der Falk dan Elliot dari Firma Van Keeuwen en Mainz & Co, tanah seluas 4.000 bahu (1 bahu = 0,74 ha) secara erfpacht 20 tahun di Tanjung Sepassi, dekat Labuhan. Contoh tembakau deli. Maret 1864, contoh hasil panen dikirim ke Rotterdam di Belanda, untuk diuji kualitasnya. Ternyata daun tembakau tersebut sangat baik dan berkualitas tinggi untuk pembungkus cerutu.

Kemudian di tahun 1866, Jannsen, P.W. Clemen, Cremer dan Nienhuys mendirikan de Deli Maatscapij di Labuhan. Kemudian melakukan ekspansi perkebunan baru di daerah Martubung, Sunggal (1869), Sungai Beras dan Klumpang (1875), sehingga jumlahnya mencapai 22 perusahaan perkebunan pada tahun 1874. Mengingat kegiatan perdagangan tembakau yang sudah sangat luas dan berkembang, Nienhuys memindahkan kantor perusahaannya dari Labuhan ke Kampung "Medan Putri". Dengan demikian "Kampung Medan Putri" menjadi semakin ramai dan selanjutnya berkembang dengan nama yang lebih dikenal sebagai "Kota Medan".

Perkembangan Kota Medan Zaman Kolonial

Kota Medan adalah contoh kota yang tumbuh pada masa kolonial di akhir abad kesembilan belas oleh kekuatan perdagangan non pemerintah Hindia Belanda (‗Urban Development by Planters and Entrepreneurs‘ oleh Cor Passchier dalam Peter J.M. Nas, Issues in Urban Development, 1995 hal 47). Awal perkembangan kota Medan merupakan dampak dari keberhasilan usaha perkebunan yang dilakukan oleh perusahaan perkebunan Belanda seperti Deli Maatschappij.

Pada tahun 1880, sebelas tahun setelah berdirinya Deli Maatschappij, embrio pembangunan pusat kota Medan mulai nampak, ditandai dengan dibuatnya lapangan Esplanade (kini Lapangan Merdeka). Semenjak itu seiring dengan kesuksesan perdagangan hasil-hasil perkebunan Deli Maatschappij seperti tembakau dan karet di dunia internasional, kota Medan berkembang menjadi kota perdagangan;. Bangunan-bangunan penting didirikan dengan rancangan arsitek-arsitek yang telah memiliki reputasi internasional pada saat itu. Bangunan-bangunan tersebut antara lain adalah Istana Maimoon (1891) oleh arsitek Itali Ferrari. Mesjid Raya (1906) oleh Arsitek Dingenmans, Javasche Bank (1909, kini Balai Kota Medan) oleh arsitek C. Boon, Javasche Bank (1909, kini Bank Indonesia) oleh arsitek Eduard Cuypers, Kantor Pos (1909) oleh arsitek J. Snuyf, Gedung Harrison and Crossfield (1914, kini gedung Lonsum) oleh arsitek J.D. de Bryun demikian juga dengan dengan bangunan-bangunan komersial dengan arsitektur yang unik di kesawan yang berkembang pesat sejak tahun 1927.

Sejak tahun 1909, kota Medan resmi menjadi kotamadya dan pada tahun 1919 diadakan perluasan kota ke daerah Polonia yang menjadi ‗kota taman Medan‘. Di kawasan ini selain dibangun lapangan Udara juga telah menjadi perumahan dengan bangunan-bangunan bergaya kolonial-tropis yang unik dan bagus. Antara tahun 1920 an hingga 1930 an Medan telah menjadi kota perdagangan yang indah dan jaya dengan sebutan ―Paris van Sumatra‖.

Dapat dikatakan bahwa perkembangan kota dan arsitektur di Medan pada akhir abad kesembilan belas hingga awal abad ke dua puluh merupakan hal yang unik karena sebagian besar merupakan inisiatif pihak swasta bukan pemerintah Hindia-Belanda, hal ini jarang terjadi pada masa itu. Keunikan tersebut masih terekam dalam wujud fisik bangunan-bangunan yang berdiri kokoh hingga kini dan telah berumur lebih dari setengah abad bahkan ada yang telah berumur seratus tahun lebih. Bersama bangunan-bangunan tersebut terekam sejarah perkembangan kota Medan. Namun sayangnya dalam perkembangan pembangunan pada masa kini, sebagian bangunan-bangunan tersebut telah dirobohkanPada seperempat akhir abad ke-19, Medan menjadi kota utama dengan wilayah yang luas yang menjadi pemakai ekonomi utama diakhir masa kolonial. Kelahiran dan pembangunan kota lebih pada hasil komersil dari pada prakarsa administrasi Kolonial, dibandingkan dengan kehadiran perkampungan kota di barat Amerika Serikat berkembangnya kota Medan dipantai timur Sumatera. Diakhir masa kolonial, pesisir timur laut Sumatera menikmati sebuah masa pertumbuhan ekonomi yang cukup pesat. Saat pergantian diwilayah yang dikenal sebagai Deli, tanah yang luas diolah menjadi lading tembakau, serta kopi dan teh, diperkuat oleh minyak dan kelapa sawit. Kualitas tembakau Deli sangat terkenal sebagai pembungkus cerutu.

Pada seperempat akhir abad ke-19, pembangunan dan perluasan wilayah berkembang semakin pesat. Tanah dengan kontrak yang lebih longgar semakin banyak dibelikan oleh Sultan Deli untuk ditempati oleh perusahaan-perusahaan barat yang berkantor pusat di Eropa dan Amerika Serikat. Perusahaan Belanda, Deli Maatschappij, menjadi yang terbesar dan paling kokoh dalam dunia bisnis. Tata letak kota Medan yang sekarang ini pada masa itu dibangun diatas tanah dengan kontrak yang longgar Deli Maatschappij.

1. Tahun 1867

Terusan suez, lalu lintas Hindia Belanda dan negeri Belanda belum seramai pada awal abad ke 20. Dengan di bukanya Terusan suez ini menyebabkan orang-orang Eropa lebihcepat untuk datang ke Indonesia membawa bentuk budaya dan arsitektur dari negeri mereka.

2. Tahun 1879

Pemerintah Hindia Belanda mengakui pembangunan pesisir timur laut sumatera dengan pendirian sebuah Asisten Residen di medan, tahun1879. Sebuah bangunan monumental yang bergaya Victoria Renaisance di bangun sebelah barat sungai Deli sebagai tempat penginapan Residen. Kecuali beberapa detil bangunan tersebut mengingatkan pada kantor pos Singapura yang di bangun pada tahun 1874.

3. Tahun 1879

Didirikan Club Kolonial ―De Witte‖, bata dan plesterannya selesai pada tahun 1887, dengan kantor pos yang terbentuk di sisi utara Esplanade. Lingkungan kota tidak berubah selam 20 tahun berikutnya, namum di akhir decade pertama abab ke 20 kapling di sisi barat dengan bangunan permanen. Sementara itu kampung kesawan berubah bentuk secara dratis menjadi daerah komersial. Gejala utama kesawan telah di didirikan sepuluh toko, yang kebanyakan di kelola oleh orang cina. Rumah-rumah toko ini hanya memiliki 1 tingkat dengan ruang tamu di belakang dan ruang komersial di depan. Teknik-teknik rekontrusi ruko dan gudang-gudang di dasari bahan kayu dan atap dari local di gabung dengan arsitektur cina.

4. Tahun 1890

Sekitar tahun 1890, sebelas tahun setelah pendirian Deli Maatschappij, cikal bakal gerit kota telah di kenal meskipun keadaan lingkungan tidak mempengaruhi morfologi kota.Luas daerah ± 175 x 275 m, yang kemudian dikenal sebagai ―Esplanade‖ sebelumnya bagian dari kebun tembakau dan kemudian menjadi rawa. Di sebelah timur laut berdiri sebuah rumah milik Deli Maatschappij dan barak-barak garnisun sebelum 1880 tidak ada fasilitas hotel di medan dan rumah Deli Maatschappij difungsikan sebagai pesangrahan atau ruang tamu, rumah sakit, gereja dan auditorium.

5. Tahun 1883

Perusahaan Deli Maatschappij memdirikan sebuah perusahaan kereta api ―Deli Spoorwerg Maatschappij ‖ membuka rel antara labuhan Deli, stasiunnya yang terletak di sisi barat Esplanade.

6. Tahun 1884

Sebuah hotel kecil di didirikan di bagian selatan Esplanade, di lokasi Grand Hotel Medan (sekarang di fungsikan sebagai Bank), dikenal dengan ―De Pijpenla‖ (kotak pipa). Hotel ini merupakan Club Kolonial Gezellingheid in Deli, yang mendorong pertunjukan theater dan musik.

7. Tahun 1900

Saat masyarakat berubah demikian halnya arsitektur, pada pengembangan baru kota dalam konsep dan ekpresi arsitektur menjadi produk orang Eropa. Pada saat itu konsep arsitektur berubah dari rumah kayu menjadi tipe rumah pondok Inggris, dengan ruang bawah kolong yang di lapisi dengan batu. Saat perluasan kota pada tahun 20-30 an, arsitektur rumah-rumah orang Eropa berhubungan dengan sebuah konsep arsitekturan yang dapat ditemukan di seluruh kepulauan Indonesia. Sebuah bentuk rumah yang universal dengan atap genteng, kadang-kadang bangunan terdiri dari dua tingkat, sebuah garasi dan beberapa bangunan lainnya.

8. Tahun 1906

Dari arah bagian barat laut istana sultan, di bangun mesjid raya dengan gaya Maroko dengan kaca yang disain oleh arsitek yang bernama Dingemans.

9. Tahun 1907

Sebuah pengendalian di luncurkan memperbaharui mata uang di timur laut pesisir laut sumatera. Mata uang jajahan Inggris dilarang menggunakan dan Gulden Hindia Belanda di perbolehkan. Ini di ikuti dengan pendirian Javasche Bank di Medan.

 

10. Tahun 1909

Arsitek C. Boon ketika bekerja pada Deli Maatschappij dari tahun 1891-1911, merancang bangunan Javasce Bank di sebelah barat Esplande, tetapi dewan pusat menolak rancangan bangunan ini. Javasche Bank memberikan suatu komisi untuk merancang suatu bangunan Bank pada seorang arsitek Belanda yang bernama Edward Cuypers memulai membuat kantor di Batavia yang kolaborasi dengan M.J Hulswit dan arsitek A.A Fermond yang bergabung pada tahun 1910. Tim Hulswit-Fermont, Batavia dan Cuypers, Amsteradam, mungkin dalam ruang lingkup produksi arsitektural merupakan kombinasi arsitek yang paling berhasil pada masa sebelum perang Indonesia. Hasil karya pertama Edward Cuypers yang penting adalah Javashce Bank dei pusat kota Medan. Hingga tahun 1929 Edward Cuypers bertanggung jawab terhadap 14 bangunan Bank di beberapa kota. Selama bertahun-tahun keberadaannya di Jakarta sampai tahun 1954, ia dapat mempekerjakan di kantor-kantor. Dalam mempertimbangkan keaneka ragaman produksi arsitektural, kita dapat menyimpulkan bahwa setiap arsitektural adalah ispirasi dari arsitek sebelumnya. Hal ini bisa kita kenali pada bangunan Javasche Bank karya Edward Cuypers. Ia membawa konsep standar bersamanya dari Belanda ke Indonesia, ini merupakan visi arsitertur yang dipengaruhi gaya empire yang digunakan Inggris di India dan daerah koloni lainnya. Tahun 1909 merupakan tahun yang produktif, seorang arsitek yang bernama B.O.W.J Snuyrf mendesain sebuah kantor pos baru, pengganti kantor pos lama yang dirancang pada tahun 1879 di Esplanade. Bangunan ini merupakan contoh perusahaan pertama di Medan untuk mencapai sebuah inovasi arsitertural. Counter-counter pos diletakkan dilingkaran pada hall di lantai satu. Hall tersebut ditutupi dengan kubah bentuk tegas, bentuk luar mendominasi volum arsitektural. Tampakdari depan yang diinspirasikan dari bentuk Gable Belanda.

11. Tahun 1913

Afdeelingsraad van Deli membeli bangunan tersebut maka dewan kota raja Medan memiliki balai kota yang siap digunakan. Kapten Cina Tjong A Fie, memberi bantuan Town Hall dengan satu menara jam.

12. Tahun 1914

Firma Inggris ―Harrison dan Crossfield‖ sebuah perusahaan karet dan eksport membangun sebuah bangunan kantor di bagian barak kesawan.

13. Tahun 1923

Berlaku mengkualifikasikan bangunan-bangunan ini sebagai desain di dalam sebuah moderenisasi dan renaissance lemah.

14. Tahun 1927

Bagian utara ruang terbuka yang lebar ditengah esplanade yang berfungsi sebagai areal olah raga. Fil pertama dipertunjukkan di barak esplanade, hal ini atas inisiatif seorang juragan perkebunan yang memiliki tiga bioskop modern pada tahun 1930 an. Setelah tahun 1927, jantung esplanade akhirnya digunakan sebagai taman.

15. Tahun 1928

Sebagai hasil dari transaksi tanah pada tahun 1919, kawasan kota praja memperoleh perkebunan tembakau terdahulu polonia ke barak laut Deli Maatshappij. Saat perluasan polonia mereka membangun kebun kota Medan batas kawasan polonia terbentuk dari arah barat sungai Deli dan arah timur sungai Babura. Diarah selatan Bandar udara polonia dibuka secara resmi pada tahun 1928 dana seadanya untuk pembangunan bandara didapati dari inisiatif pribadi dengan cara tradisi kuno Medan, yaitu joint venture masyarakat tembakau dengan pemilik kebun karet (D.P.V. dan A.V.R.O.S.). Jalan penting utara selatan poloniaweg / Jl.Imam Bonjol, sudah digunakan sejak tahun 1870 sebagai transportasi antara perkebunan tembakau polonia dan kantor pusat Deli Maattschappij untuk pengangkutan tembakau pelabuhan Deli. Selain sebagai transportasi sejarah ini desain greet kota dilengkapi sebuah jalan arteri uatar selatan penting, Manggalaan / Jl. Dipenogoro yang berhubungan dengan arah selatan dengan jalan timur barat Sultaswe / Jl. Jenderal Sudirman dan pada arah utara dengan lapangan terbuka di depan komplek Mahkamah Peradilan yang digunakan pada tahun 30 an sebagai lapangan olah raga untuk bola kaki dan tennis. Kecuali untuk beberapa jalan sekunder lingkungan berlokasi di timur barat rencana jalan.

16. Tahun 1930

Aktivitas baru dimulai ke Sultansweg / Jl. Jend. Sudirman. Akibat depresi ekonomi pada tahun 30-an, aktivitas bangunna menjadi lambat. Disebutkan untuk menjag tata letak kota polonia utara, seseorang dapat mengenli sebuaha sambungan derah yanag diutara. Bagian selatan polonia mungkin didesin oleh perncng kotaThomas Karsten sebagai penasehat bagi lebih kurang 19 pemerintah kotapraja.

17. Tahun 1950

Hingga tahun 1950-an, seluruh kawasan polonia difungsikan sebagai tipikal lingkungan perumahan orang Eropa. Beberapa arsitek dari Belanda yang datang ke Indonesia banyak berperan dalam membentuk kawasan poloni, salah satunya diantaranya adalah J.M. Groenewegen. Ia membngun banyak rumah, rumah sakit Elisabet, sekolah, dan sebuah kolam renang. Pada tahun 1950-an, J.M.Gronewegen menjadi warganegara Indonesia dan bergabung dengan arsitek Silaban, mereka memiliki kantor di Jakarta (Pasier, 1997).

Perkembangan Arsitektur Modern Masa Kolonial di Indonesia

Gagasan modernisme dalam arsitektur tumbuh semenjak akhir abad ke-19 di Eropa Barat yang dikibatkan oleh berbagai kemajuan dibidang ilmu pengetahuan dan teknologi. Ledakan tuntutan tipologi bangunan yanag sebelumnya tidak pernah ada,dengan mengklasifikasikan bangunan pabrik, pertokoan, perkantoran, bioskop, stasiun kereta api, lapngan terbang, dan hangar pesawat. Hal ini terbukti yang pertama dapat dilihat pada bahan bangunan yang dibuat dipabrik dengan menggunakan mesin-mesin dengan sehingga pembangunan dapat dilakukan dalam waktu yang relativ singkat. Kedua, tejadi spesialaisasi dan terpishnya dua keahlian, yitu arsitek dalam hal yang berkitan dengan fungsi ruang dan bentuk sedangkan dilain pihak adalah hli struktur dan dan kontruksi dalam hal perhitungan dan pelaksanaan.

Pada awal tahun 1900 gerakan yang menentang peniruan dan pengulangan bentuk dan teori klasik tradisional semakin meluas keseluruh dunia, fungsionalisme semakin berkembang dimasyarakat dan meninggalkan hiasan dan ornament benyuk yang lm dan menonjolkan kemajuan teknologi kontruksi dan srtuktur bangunan. Ornament merupakan kebenaran palsu dalam hal ini diungkapkan oleh Adolf Loos. Pada kongres CIAM pada tahun 1928 arsitektur modern telah mengkristak dan menjadi suatu alirn yang disebut dengn ―Internasional Style‖.

Teori bentuk dan konsep lama baik tentang keindahan dan seni arsitektur masa lalu telah ditinggalkan dengan munculnya aliran ―Cubism‖ yang menonjolkan aspek ruang atau tiga dimensi dan waktu, dimana hal ini belum pernah ada dalam arsitektur klasik tradisioanl. Arsitektur modern berusaha memutuskan hubungan dengan masa lalu karena dianggap arsitektur klasik tradisional sebagai symbolism dari penindasan yang dilakukan oleh feudalism maupun totalitarianism aristokrasi. Sebuah bangunan tidak hanya dipandang pada satu sisi melainkan sisi yang lain merupakan satu kesatuan bentuk yang utuh sehingga sering disebut dengan arsitrektur kubisme. Selanjutnya arsitektur kubism dan fungsionalism berkembang sangat cepat di Eropa, Amerika, bahkan Asia, hal ini sejalan dengan perkembangan budaya, pola pikir dan pola hidup modern masyarakat dalam hal seni. Ciri umum dari gaya arsitektur yang melanda pada akhir abad ke-19 atau abad ke-20 adalah asimetris, kubism, atau semua sisi dalam komposisi bangunan. (Yulianto Sumalyo, 1997).

Di Indonesia bangunan kolonial mulai berkembang sejak kedatangan bangsa Eropa ke Indonesia yang semula hanya bertujuan untuk berdagang. Bangsa Eropa yang pertama datang ke Indonesia sebenarnya adalah bangsa Portugis pada tahun 1509. Usaha penduduk dilakukan sekitar tahun 1511, teutama di Maluku yang paling terkenal dengan hasil rempah-rempahnya. Karena ketegangan dengan masyarakat pribumi, maka dibangun benteng-benteng disekitar perumahan bangsa Eropa untuk melindungi diri dari serangan para pribumi. Belanda dengan sitem perdagangan yang dikenal dengan VOC-nya mulai membangun markas di Makasar yaitu Fort Roterdam.

Pada tahun 1611, merupakan tahun dimulainya arsitektur kolonial Belanda di Indonesia dengan berpindahnya pusat perdagangan VOC ke Pulau Jawa. Dimulai dengan didirikannya Fort Batavia yaitu sebuah benteng pertahanan dipinggir pantai Batavia dengan bentuk dan bentuk denah yang sama dengan bentuk di Belanda. Tata letak kota Batavia direncanakan mirip dengan Amsterdam dengan didirikan gerbang-gerbang dipinggir kota, dimana salah satunya adalah gerbang kemenangan yang disebut ―Amsterdam Poort‖. Yang dibangun pada tahun 1748.

2015 - Pengembangan Indeks Kesehatan dan Kebahagiaan Warga Kawasan Perkotaan Berdasarkan Ketersediaan Infrastruktur: Medan (Executive Summary) TAMPILKAN
UNDUH

Kajian ini dilakukan untuk mengetahui peran keberadaan infrastruktur PUPR terhadap Indeks Kebahagiaan warga pada kawasan perkotaan dan lebih jauh lagi pada tingkat kesejahteraannya.

2015 - Pengembangan Indeks Kesehatan dan Kebahagiaan Warga Kawasan Perkotaan Berdasarkan Ketersediaan Infrastruktur: Medan (Laporan) TAMPILKAN
UNDUH

Muatan dalam laporan ini terdiri dari pendahuluan, konsep pembangunan kota dan indeks infrastruktur PUPR, data dan informasi dari kota-kota yang disurvei baik primer maupun sekunder, hasil indeks yaitu hasil perhitungan awal indeks infrastruktur PUPR, serta kesimpulan dan rekomendasi.