PU-net

BASIS DATA
PUSAT PENGEMBANGAN KAWASAN PERKOTAAN

Profil Kota Palembang

Kota Palembang

Sumatera Selatan

FUNGSI KOTA
Pusat Kegiatan Nasional (PKN)
TANGGAL PEMBENTUKAN
0682-06-19
KLASIFIKASI UKURAN KOTA
Kota Metropolitan
JUMLAH PENDUDUK
1.602.071 jiwa
LUAS WILAYAH
400,61 km2
WEBSITE PEMERINTAHAN

PROFIL KOTA

Kota Palembang merupakan ibukota Provinsi Sumatera Selatan. Letak Kota Palembang cukup strategis karena dilalui oleh jalan lintas Sumatera yang menghubungkan antar daerah di Pulau Sumatera. Wilayah Kota Palembang berbatasan dengan Kabupaten Banyuasin di sebelah utara, timur, dan barat serta Kabupaten Muara Enim dan Kabupaten Ogan Ilir di sebelah selatan. Kota Palembang terdiri dari 16 kecamatan, yaitu Kecamatan Ilir Barat II, Kecamatan Gandus, Kecamatan Seberang Ulu I, Kecamatan Kertapati, Kecamatan Seberang Ulu II, Kecamatan Plahu, Kecamatan Ilir Barat I, Kecamatan Bukit Becil, Kecamatan Ilir Timur I, Kecamatan Kemuning, Kecamatan Ilir Timur II, Kecamatan Kalidoni, Kecamatan Sako, Kecamatan Sematang Borang, Kecamatan Sukarami, dan Kecamatan Alang-Alang Lebar.

Topografi Kota Palembang merupakan tanah datar yang relatif rendah sehingga terdapat banyak rawa dan dialiri banyak sungai. Kota Palembang terbelah oleh Sungai Musi menjadi dua bagian besar yang disebut sebagai Seberang Ulu dan Seberang Ilir. Selain Sungai Musi, terdapat 3 sungai besar lainnya yang melintasi Kota Palembang yaitu Sungai Komering dengan lebar rata-rata 236 m, Sungai Ogan dengan lebar rata-rata 211 m, dan Sungai Keramasan dengan lebar rata-rata 103 m. Keempat sungai besar tersebut memiliki ratusan anak sungai yang sebelumnya berfungsi sebagai alat angkutan sungai ke daerah pedalaman, namun sekarang sudah banyak mengalami perubahan fungsi antara lain sebagai drainase dan untuk pengedalian banjir. Fungsi anak-anak sungai yang semula sebagai daerah tangkapan air, sudah banyak ditimbun untuk kepentingan sosial sehingga berubah fungsinya menjadi permukiman dan pusat kegiatan ekonomi lainnya. Banyaknya rawa dan sungai di Kota Palembang menyebabkan kota ini rentan bencana banjir apabila terjadi hujan terus menerus.

Jumlah penduduk Kota Palembang pada tahun 2016 yaitu 1.602.071 jiwa yang terdiri dari 802.990 jiwa penduduk laki-laki dan 799.081 jiwa penduduk perempuan dengan laju pertumbuhan penduduk sebesar 1,36%. Kepadatan penduduk di Kota Palembang tahun 2016 mencapai 3.999 jiwa/km2 dengan kepadatan tertinggi berada di Kecamatan Ilir Timur I dengan kepadatan sebesar 11.137 jiwa/km2 dan kepadatan terendah di Kecamatan Gandus sebesar 916 jiwa/km2. 

Berdasarkan sistem perkotaan nasional, Kota Palembang ditetapkan sebagai Pusat Kegiatan Nasional (PKN). Dalam RPJMN 2015-2019,  Kota Palembang termasuk ke dalam Kawasan Perkotaan Metropolitan Patungraya Agung dan diarahakan sebagai Pusat Kegiatan Nasional (PKN) yang diarahkan sebagai outlet pemasaran untuk wilayah Sumatera bagian Selatan dengan tetap memantapkan fungsi-fungsi keterkaitan dengan pusat-pusat pertumbuhan wilayah internasional sekaligus sebagai pusat pelaksanaan kegiatan berskala internsional. Kota Palembang juga diarahkan sebagai pusat permukiman baru yang layak huni dan didukung oleh fasilitas ekonomi dan sosial budaya yang lengkap guna mencegah terjadinya permukiman tidak terkendali (urban sprawl) akibat urbanisasi di kota otonom terdekatnya. 

EKONOMI

Kota Palembang sebagai ibu kota Provinsi Sumatera Selatan menduduki peringkat pertama dalam memberikan kontribusi terhadap PDRB Sumatera Selatan. Dalam kurun waktu tiga tahun terakhir, PDRB Atas Dasar Harga Berlaku Kota Palembang naik cukup tinggi hingga mencapai 108,48 triliun rupiah pada tahun 2015. Untuk PDRB Atas Dasar Harga Konstan juga mengalami peningkatan hingga mencapai angka 82,3 triliun rupiah.

Berdasarkan harga berlaku dengan migas, terdapat tiga sektor yang memberikan sumbangan terbesar adalah sektor industri pengolahan, diikuti oleh sektor konstruksi perdagangan besar dan eceran; reparasi mobil dan sepeda motor meningkat sebesar 1,26%. Sedengakan sektor industri pengolahan dan konstruksi menurun masing-masing 0,31% dan 1,13%.

SEJARAH

Kota Palembang merupakan kota tertua di Indonesia. Kota Palembang pernah menjadi pusat Kerajaan Sriwijaya pada abad VII Masehi. Ditemukannya Prasasti Kedukan Bukit di daerah Palembang bagian barat pada tahun 1920, menunjukkan peran penting Palembang pada masa Sriwijaya. Prasasti Kedukan Bukit beraksara Pallawa dan bahasa Melayu Kuno mencatat perjalanan ekspedisi Dapunta Hyang, raja Sriwijaya, bersama ribuan tentara naik perahu dan ada yang berjalan kaki. Mereka tiba di suatu tempat yang lokasinya sekarang di sekitar aliran sungai Kedukan, satu dari anak sungai Musi. Di tempat itu raja mendirikan wanua atau permukiman pada tanggal 16 Juni 682 Masehi. Wanua itu kemudian berkembang menjadi pusat Kerajaan Sriwijaya sampai beberapa abad.

Jejak-jejak aktivitas permukiman masa Sriwijaya di Palembang banyak ditemukan di daerah Seberang Ilir (tepi Sungai Musi bagian utara), meliputi daerah Talang Tuo, Karanganyar, Bukit Siguntang, Candi Angsoka, daerah sekitar Benteng Kuto Besak, Sabokingking dan Geding Suro serta di kawasan Pusri. Penataan permukiman masa Sriwijaya itu dapat diamati antara lain sisa-sisa kanal kuno, dan pulau-pulau buatan yang berhubungan dengan Sungai Musi, sisa bangunan candi di Angsoka, situs-situs hunian dan pembuatan manik-manik di sekitar Bukit Siguntang dan Kambang Unglen dan situs-situs hunian di sekitar Sabokingking dan Gedingsuro.

Pengembangan Kota Palembang masa pasca Sriwijaya meliputi (1) masa Kerajaan Palembang dan Kesultanan Palembang; (2) masa kolonial Belanda, (3) masa sekarang. Penataan permukiman Kota Palembang pada masa pasca Sriwijaya tidak berbeda jauh dengan penataan permukiman pada masa Sriwijaya. Bangunan-bangunan untuk bermukim terdapat di sepanjang tepi Sungai Musi dan daerah lahan basah (wetland) lainnya, antara lain dataran banjir (floodplain), rawa belakang (backswamp) dan rawa gambut (peatswamp). Dataran kering biasanya digunakan untuk bangunan-bangunan yang berkaitan dengan religi (masjid, makam) dan bangunan publik lainnya. Kota Palembang pada masa Kerajaan Palembang dan Kesultanan Palembang mengembangkan morfologi permukiman masa Sriwijaya yaitu mengelompok di tepi Sungai Musi dan dataran kering di daerah Seberang Ilir. Pada masa sekarang tepatnya sekitar tahun 2000an, daerah Seberang Ulu mulai intensif dikembangkan, khususnya untuk kawasan perkantoran dan kawasan olah raga di Jaka Baring.

 

2015 - Pengembangan Indeks Kesehatan dan Kebahagiaan Warga Kawasan Perkotaan Berdasarkan Ketersediaan Infrastruktur: Palembang (Executive Summary) TAMPILKAN
UNDUH

Kajian ini dilakukan untuk mengetahui peran keberadaan infrastruktur PUPR terhadap Indeks Kebahagiaan warga pada kawasan perkotaan dan lebih jauh lagi pada tingkat kesejahteraannya.

2015 - Pengembangan Indeks Kesehatan dan Kebahagiaan Warga Kawasan Perkotaan Berdasarkan Ketersediaan Infrastruktur: Palembang (Laporan) TAMPILKAN
UNDUH

Muatan dalam laporan ini terdiri dari pendahuluan, konsep pembangunan kota dan indeks infrastruktur PUPR, data dan informasi dari kota-kota yang disurvei baik primer maupun sekunder, hasil indeks yaitu hasil perhitungan awal indeks infrastruktur PUPR, serta kesimpulan dan rekomendasi.